Harga Telur Tembus Rp31 Ribu, Ini Penyebab Utamanya
JAKARTA – Fluktuasi harga telur ayam ras pada akhir Maret 2026 mendorong pemerintah daerah dan pelaku pasar memperkuat pengawasan distribusi serta strategi stabilisasi, menyusul masih tingginya harga di tingkat konsumen meski sejumlah komoditas lain mulai melandai.
Per Sabtu (28/03/2026), harga telur ayam ras di berbagai daerah terpantau belum menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi ini dipicu kombinasi faktor biaya produksi, terutama pakan ternak, serta distribusi yang belum efisien. Di sisi lain, permintaan pasar tetap tinggi menjelang akhir pekan sehingga memperkuat tekanan harga di tingkat eceran.
Berdasarkan data pemantauan di sejumlah wilayah, harga telur masih bertahan di kisaran tinggi dibandingkan pekan sebelumnya. Ketimpangan harga juga terlihat antara daerah sentra produksi dan wilayah konsumen akibat panjangnya rantai distribusi. Pemerintah melalui dinas terkait terus melakukan pengawasan guna memastikan harga tetap dalam batas kewajaran dan mencegah praktik spekulasi.
Fenomena ini terjadi bersamaan dengan dinamika harga komoditas lain, seperti cabai rawit merah yang dilaporkan mengalami lonjakan hingga 32,6 persen di beberapa daerah. Kenaikan tajam pada komoditas bumbu ini turut memengaruhi persepsi pasar dan memperkuat tekanan terhadap bahan pangan lain, termasuk telur.
Data perbandingan harga menunjukkan adanya selisih antara harga riil di pasar dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Sebagai gambaran, harga telur ayam ras tercatat sekitar Rp31.000 per kilogram, sementara sejumlah komoditas lain seperti beras, daging, dan minyak goreng juga berada di atas HET pada periode yang sama.
Di tengah kondisi tersebut, ritel modern memanfaatkan momentum akhir pekan dengan menghadirkan program Jumat Sabtu Minggu (JSM) yang menawarkan potongan harga hingga 45 persen untuk sejumlah kebutuhan pokok. Langkah ini menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh harga lebih kompetitif, terutama untuk produk kemasan seperti telur dan minyak goreng, sebagaimana dilansir Momsmoney Kontan, Sabtu (28/03/2026).
Selain faktor distribusi, kenaikan biaya pakan ternak juga menjadi penyebab utama harga telur sulit turun. Peternak menghadapi dilema antara menjaga harga jual agar tetap terjangkau atau mempertahankan margin usaha di tengah kenaikan biaya operasional.
Pemerintah pusat dan daerah kini memperkuat koordinasi melalui operasi pasar dan pemantauan stok guna menjaga keseimbangan pasokan. Upaya ini diharapkan dapat menekan gejolak harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat, khususnya pada komoditas sumber protein.
Di sisi konsumen, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam berbelanja, termasuk membandingkan harga antar pasar dan memanfaatkan promo ritel modern. Langkah ini dinilai efektif untuk mengendalikan pengeluaran rumah tangga di tengah kondisi harga yang belum stabil.
Ke depan, stabilitas harga telur dan komoditas pangan lainnya sangat bergantung pada kelancaran distribusi, efisiensi biaya produksi, serta konsistensi intervensi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar. []
Penulis: Salsabila Putri | Penyunting: Redaksi01
