Kredit Melambat, Bank Ramai-Ramai Borong Obligasi
JAKARTA – Strategi perbankan nasional dalam menjaga profitabilitas di tengah perlambatan penyaluran kredit bergeser dengan memperbesar penempatan dana pada instrumen surat utang seperti obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN). Langkah ini dilakukan untuk menjaga likuiditas tetap produktif sekaligus menghasilkan imbal hasil di tengah permintaan kredit yang belum optimal.
Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan kepemilikan bank pada SBN mencapai Rp1.421 triliun per 10 Maret 2026, meningkat sekitar 18 persen dibandingkan posisi Rp1.200 triliun pada 13 Maret 2025. Kenaikan ini mencerminkan kecenderungan bank mengoptimalkan instrumen investasi saat pertumbuhan kredit belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah bank besar mencatat tren serupa, di mana pertumbuhan kepemilikan surat berharga melampaui laju kredit. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan kredit sebesar 10,49 persen secara year-on-year (yoy), sementara surat berharga meningkat 20,18 persen yoy. Meski demikian, nilai kredit tetap lebih besar, yakni Rp1.346 triliun dibandingkan obligasi sebesar Rp370,03 triliun.
Hal serupa terjadi pada PT Bank Negara Indonesia Tbk dengan pertumbuhan kredit 18,9 persen yoy menjadi Rp882,22 triliun dan obligasi naik 25,21 persen yoy menjadi Rp192,93 triliun. PT Bank Mandiri Tbk juga mencatat kredit tumbuh 15,71 persen yoy menjadi Rp1.513 triliun dan obligasi naik 16,62 persen yoy menjadi Rp295,58 triliun.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk menunjukkan kesenjangan lebih besar dengan pertumbuhan kredit 5,83 persen yoy menjadi Rp953,22 triliun, sedangkan obligasi meningkat 17,25 persen yoy menjadi Rp444,85 triliun.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa penempatan dana pada surat berharga didominasi obligasi pemerintah, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Strategi ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan likuiditas sekaligus mendukung pembiayaan negara.
“BCA berkomitmen untuk mengelola likuiditas secara prudent serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko,” katanya kepada Kontan, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (27/03/2026).
Berbeda dengan tren umum, PT Bank CIMB Niaga Tbk justru mencatat penurunan kepemilikan obligasi sebesar 1,96 persen yoy menjadi Rp78,03 triliun per Februari 2026. Di sisi lain, kredit masih tumbuh 6,67 persen yoy menjadi Rp167,61 triliun.
Presiden Direktur (Presdir) CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa fokus utama bank tetap pada penyaluran kredit, meski kondisi permintaan belum sepenuhnya pulih.
“Apalagi untuk kredit usaha,” sebut Lani.
Ia menambahkan, penempatan dana pada obligasi menjadi alternatif untuk mengoptimalkan return melalui fee income. Namun, ketika permintaan kredit kembali meningkat, likuiditas akan diarahkan kembali ke fungsi intermediasi utama perbankan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan tengah menjalankan strategi adaptif dalam menjaga kinerja di tengah dinamika ekonomi, sembari menunggu pemulihan permintaan kredit agar kembali menjadi motor utama pertumbuhan. []
Penulis: Lydia Tesaloni | Penyunting: Redaksi01
