Tekanan Global Menguat, IHSG Diprediksi Masih Melemah
JAKARTA – Tekanan eksternal dari konflik Timur Tengah dan pergeseran likuiditas global diperkirakan masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, sehingga indeks berpotensi melanjutkan tren pelemahan dalam jangka pendek.[]
Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menyebut pergerakan IHSG cenderung bergerak hati-hati dengan pola konsolidasi. Ia menilai upaya pemulihan sebelumnya tertahan di level resistance 7.097, sehingga membuka peluang koreksi lanjutan menuju area support 6.917 apabila level 7.059 tidak mampu dipertahankan. “Pasar saat ini masih menanti perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, data ekonomi global, dan sentimen domestik,” ujarnya, sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Selasa, (31/03/2026).[]
Senada, MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 7.022–6.917 dan resistance 7.302–7.434. Rentang ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang masih tinggi di tengah dinamika global.[]
Dari sisi fundamental, Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan, menilai risiko pasar belum sepenuhnya tercermin pada level IHSG saat ini. Ia menyoroti potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada April 2026 yang dapat memengaruhi sentimen investor. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan terhadap perekonomian domestik.[]
Zaidan juga mengungkapkan adanya pergeseran arus dana global ke Amerika Serikat (AS), seiring penguatan Indeks Dolar AS yang membuat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami penurunan aliran modal. Kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dinilai berpotensi meningkatkan biaya pendanaan korporasi, terutama melalui penerbitan obligasi. “Kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), jika terus berlanjut di tengah konflik, dapat meningkatkan biaya pinjaman korporasi, terutama melalui penerbitan obligasi,” ujarnya.[]
Pada perdagangan sebelumnya, Senin, 30 Maret 2026, IHSG ditutup melemah 0,08 persen atau turun 5,38 poin ke level 7.091,67. Pelemahan dipicu tekanan pada sektor keuangan, barang baku, dan properti, sementara sektor energi justru mencatat penguatan seiring kenaikan harga minyak global.[]
Di pasar global, bursa saham Asia diperkirakan mengikuti pelemahan bursa Amerika Serikat, khususnya indeks S&P 500 yang mendekati zona koreksi teknis. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus menguat, didorong ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS.[]
Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, memberikan sinyal bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali. “Ekspektasi inflasi dinilai tetap terjangkar dengan baik di luar jangka pendek,” ujarnya, yang turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut.[]
Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap wait and see sambil mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global yang akan menentukan pergerakan IHSG ke depan.[]
Penulis: Rina Maharani | Penyunting: Redaksi01
