Dolar Tak Terbendung, Yen dan Euro Melemah

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret 2026 dan berpotensi menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran resesi global.

Pada perdagangan Selasa (31/03/2026), mata uang dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Indeks dolar bahkan sempat menyentuh level 100,61, tertinggi sejak Mei tahun lalu, dengan penguatan sekitar 2,9 persen sepanjang bulan ini.

Penguatan dolar dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi serta gangguan jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.

Di pasar valuta asing, yen Jepang mengalami tekanan akibat lonjakan harga energi yang membebani ekonomi negara tersebut. Yen sempat berada di level 159,81 per dolar AS dan mencatat pelemahan sekitar 2,4 persen secara bulanan.

Mata uang lain juga tertekan, termasuk euro yang melemah 0,3 persen dan berada di jalur penurunan sekitar 3 persen sepanjang Maret. Dolar Australia dan Selandia Baru turut merosot, dengan dolar Australia sempat menyentuh level terendah dua bulan di US$0,6834.

Analis ING, Chris Turner, menilai penguatan dolar masih berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik belum mereda. “Tanpa sinyal deeskalasi yang jelas dari Iran, sulit melihat dolar kehilangan momentumnya dalam waktu dekat,” ujar Chris Turner sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (31/03/2026).

Sementara itu, Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menyatakan bank sentral masih akan mengambil pendekatan wait and see terhadap dampak konflik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Sikap tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi jangka pendek serta meredam ekspektasi kenaikan suku bunga.

Meski demikian, status dolar sebagai aset lindung nilai tetap membuatnya diminati investor di tengah ketidakpastian global. Menariknya, aset safe haven lain seperti emas dan obligasi belum menunjukkan penguatan signifikan, sementara yen dan franc Swiss juga belum mampu berfungsi optimal sebagai pelindung nilai.

Di kawasan Asia, won Korea Selatan turut melemah hingga menyentuh level terendah sejak 2009, mencerminkan tekanan luas terhadap mata uang negara berkembang akibat penguatan dolar.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Eropa serta aktivitas manufaktur China untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai arah ekonomi global di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga energi. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *