Saham BBRI Berpeluang Naik 42 Persen, Ini Catatan Penting Analis

JAKARTA – Konsensus analis pasar menunjukkan optimisme terhadap prospek saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sepanjang 2026, meskipun di sisi lain terdapat sejumlah catatan risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait tekanan margin dan kualitas aset di segmen mikro.

Berdasarkan data konsensus analis yang dihimpun Bloomberg per 26 April 2026, sebanyak 29 analis atau 82,9 persen merekomendasikan aksi beli (buy) terhadap saham BBRI. Sementara itu, 4 analis atau 11,1 persen menyarankan untuk menahan (hold) dan 2 analis lainnya atau 5,7 persen merekomendasikan jual (sell).

Target harga rata-rata dalam 12 bulan atau 12-month target price dipatok di kisaran Rp4.377,95 per saham, lebih tinggi dibandingkan harga penutupan perdagangan pekan ini di level Rp3.070 per saham. Dengan demikian, saham emiten perbankan tersebut masih memiliki potensi kenaikan sekitar 42,6 persen dalam satu tahun ke depan.

Optimisme ini juga didukung oleh penilaian sejumlah lembaga riset, termasuk Maybank Sekuritas yang menetapkan target harga Rp4.300 per saham dengan mempertimbangkan rasio price to book value (P/BV) sebesar 1,5 kali dan price to earnings ratio (P/E) 8,5 kali untuk 2026.

Kinerja fundamental perusahaan turut menjadi faktor pendorong. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, laba bersih entitas bank saja (bank only) tercatat mencapai Rp7,7 triliun atau tumbuh 17 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong oleh penurunan pencadangan sebesar 15,8 persen, serta kenaikan pendapatan bunga bersih 4,8 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba lebih banyak ditopang oleh penurunan biaya kredit dibandingkan penguatan momentum operasional,” dikutip dari riset Maybank Sekuritas yang disusun Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Minggu, (26/04/2026).

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit hingga Februari 2026 mencapai Rp1.346 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan, meskipun mengalami penurunan tipis 0,6 persen secara bulanan. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.509 triliun atau meningkat 9,3 persen secara tahunan.

Rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di level 89,2 persen, mencerminkan likuiditas yang masih terjaga. Adapun rasio current account saving account (CASA) mencapai 67,4 persen, naik 257 basis poin (bps) secara tahunan meski turun secara bulanan akibat normalisasi giro dan peningkatan deposito berjangka.

Namun demikian, sejumlah analis mengingatkan adanya potensi tekanan terhadap kinerja ke depan. Analis Bloomberg Intelligence Sarah Jane Mahmud dan Alison Hor menilai kualitas aset, khususnya di segmen mikro yang menyumbang sekitar 43 persen portofolio kredit, perlu menjadi perhatian utama.

“Penyaluran kredit diperkirakan tetap sehat, di kisaran high single digit, dengan fokus yang lebih tajam pada pembiayaan kendaraan dan perumahan,” tulis Mahmud dan Hor.

Mereka juga menyoroti potensi dampak eksternal seperti masuknya barang impor murah serta tekanan inflasi yang dapat memengaruhi kemampuan bayar pelaku usaha mikro.

“Kami memperkirakan terjadi pelemahan moderat pada rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) yang berada di level 3,1%, seiring potensi masuknya barang murah dari China akibat pembatasan tarif AS serta inflasi yang berada di atas target sebesar 2,63% YoY pada Februari, yang dapat menekan profitabilitas usaha mikro dan kecil,” kata mereka.

Di sisi lain, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat menurun menjadi 6,13 persen pada Februari 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil aset, meskipun sebagian tekanan berhasil diredam melalui penurunan biaya dana.

“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit tetap sehat di level low double digit, didukung oleh peningkatan permintaan ritel selama Ramadan, meskipun peningkatan penarikan dana rumah tangga terkait periode tersebut kemungkinan menekan rasio loan-to-deposit ratio (LDR) bank yang berada di 91,4%,” tulis mereka.

Secara keseluruhan, meskipun peluang kenaikan harga saham masih terbuka lebar, pelaku pasar tetap dihadapkan pada dinamika risiko yang perlu dicermati, terutama terkait stabilitas margin dan kualitas pembiayaan di tengah tantangan ekonomi global.[]

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *