BPK Soroti Inefisiensi Pabrik Pupuk BUMN, Biaya Bengkak Rp9,9 Triliun

JAKARTA – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan inefisiensi operasional pabrik pupuk milik PT Pupuk Indonesia (Persero) yang menyebabkan pembengkakan biaya produksi hingga Rp9,99 triliun sepanjang 2023 hingga semester I 2025, sehingga mendorong perlunya percepatan revitalisasi fasilitas produksi.

Temuan tersebut tertuang dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II 2025 atau Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II 2025, yang menyoroti tingginya konsumsi energi pada pabrik amonia dibandingkan standar industri global. Dalam laporan itu, rata-rata konsumsi gas tercatat sebesar 38,25 MMBTU per ton, melampaui target dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).

Sebagai pembanding, rata-rata konsumsi gas industri pupuk global atau fertilizer global benchmark berada di kisaran 33,55 MMBTU per ton amonia. BPK menilai tingginya konsumsi energi dipengaruhi oleh usia pabrik yang telah menua, pemeliharaan yang belum optimal, serta tingginya waktu henti operasi atau downtime.

“Hal tersebut mengakibatkan ketidakefisienan pabrik amonia yang meningkatkan biaya produksi pupuk selama tahun 2023 s.d. semester I 2025 sebesar USD 597,68 juta atau Rp 9,99 triliun,” seperti dikutip dari IHPS II BPK, sebagaimana dilansir Liputan6, Minggu, (26/04/2026).

Atas temuan tersebut, BPK merekomendasikan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pabrik lama serta percepatan program revitalisasi dan pembangunan fasilitas baru guna meningkatkan efisiensi produksi.

Menanggapi hal itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menyiapkan langkah perbaikan melalui sejumlah proyek modernisasi pabrik yang ditargetkan rampung hingga 2029. Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT Pupuk Indonesia (Persero) Yehezkiel Adiperwira menyebut dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program tersebut.

“Nantinya ke depan memang akan banyak perbaikan-perbaikan. Kemudian nanti akan ada revitalisasi pabrik. Sesuai dengan arahan dari Pak Presiden bahwa kita harus berdaulat atas pangan,” ungkap Yehezkiel.

Salah satu fokus utama peremajaan dilakukan pada fasilitas produksi yang telah beroperasi puluhan tahun, termasuk pabrik milik PT Pupuk Kujang Cikampek yang berdiri sejak 1975. Revitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kapasitas produksi.

“Jadi di situ memang ada pabrik-pabrik yang memang waktunya untuk dilakukan revitalisasi untuk memastikan kapasitas produksi di Pupuk Indonesia Group itu bisa memenuhi dari kebutuhan petani di Indonesia,” jelas dia.

Selain revitalisasi, perusahaan juga menyiapkan tujuh proyek strategis, termasuk pembaruan fasilitas PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) serta pembangunan pabrik baru PT Pupuk Sriwidjaja Palembang 3B. Proyek tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi pupuk nasional guna mendukung ketahanan pangan.

“Nantinya dengan adanya 2 proyek untuk revitalisasi tersebut, kami memastikan bahwa kapasitas untuk produksi itu bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri,” katanya.

Di sisi lain, perusahaan juga mengembangkan program hilirisasi industri, salah satunya melalui produksi soda ash oleh PKT sebagai bagian dari strategi memperkuat industri dalam negeri.

Temuan BPK ini menjadi indikator penting bagi pemerintah dan perusahaan untuk mempercepat transformasi industri pupuk nasional, guna menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bagi sektor pertanian.[]

Penulis: Arief Rahman H | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *