Investasi Jateng Tembus Rp23 Triliun, UMKM Ekspor Raup Potensi Rp43 Miliar

SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi investasi hijau dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penyelenggaraan Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 dan UMKM Grande 2026 di Semarang, Minggu (11/05/2026). Langkah tersebut dilakukan seiring pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,89 persen secara tahunan atau year on year (yoy), melampaui capaian nasional sebesar 5,61 persen (yoy).

Forum investasi dan perdagangan tersebut menjadi upaya memperkuat posisi Jateng sebagai daerah dengan iklim investasi kompetitif sekaligus memiliki basis UMKM yang kuat. Dalam kegiatan itu, BI dan Pemprov Jateng mempromosikan 17 proyek investasi unggulan kepada investor, mulai dari sektor energi terbarukan, hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pengolahan limbah energi.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman mengatakan stabilitas ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga minat investasi di tengah dinamika global. Menurutnya, BI terus memperkuat kebijakan moneter yang mendukung stabilitas inflasi dan nilai tukar, sekaligus memperluas pembiayaan sektor produktif.

Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan penguatan ekonomi digital juga terus diperluas untuk meningkatkan daya saing UMKM. Ia menilai digitalisasi menjadi kebutuhan penting agar pelaku usaha mampu memperluas pasar hingga menembus pasar internasional.

“Jangan hanya menjadi pasar, tetapi harus menjadi produsen. Jangan hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga barang jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut realisasi investasi di Jateng pada triwulan I 2026 mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 92 ribu orang di 35 kabupaten/kota. Angka tersebut meningkat sekitar lima persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Ahmad Luthfi, investasi yang masuk harus memberikan dampak langsung terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan peningkatan kapasitas UMKM agar mampu naik kelas hingga pasar global.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu menilai Jateng memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan investasi nasional. Ia mendorong pengembangan kawasan industri dan penguatan infrastruktur logistik guna mempercepat masuknya investasi di berbagai wilayah.

Dalam CJIBF 2026, sejumlah proyek energi terbarukan yang dipromosikan antara lain pengembangan panas bumi Candi Umbul Telomoyo milik Geo Dipa Energy, Logawa Minihydro Power Plant di Kabupaten Banyumas, pemanfaatan limbah pertanian menjadi biomassa di Kabupaten Grobogan, hingga proyek Waste to Refuse Derived Fuel di Kabupaten Demak dan Kabupaten Pati.

Selain itu, sektor pertanian dan hilirisasi pangan juga menjadi fokus pengembangan melalui proyek Integrated Coconut Industry, Integrated Shrimp Industry, Integrated Fisheries Special Zone di Kabupaten Cilacap, industri garam di Kabupaten Jepara, serta pengembangan industri modified cassava flour (mocaf) di Kabupaten Banjarnegara.

Pada sektor pariwisata, sejumlah proyek yang dipromosikan meliputi pengembangan Taman Kyai Langgeng Ecopark, Pulau Panjang di Kabupaten Jepara, dan Deyangan Resort kawasan Borobudur di Kabupaten Magelang.

Forum investasi tersebut juga mempertemukan calon investor dengan empat kawasan industri utama di Jateng, yakni Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung.

Di sisi lain, UMKM Grande 2026 yang berlangsung pada 7 hingga 11 Mei 2026 di Atrium Paragon Mall Semarang menghadirkan sekitar 90 UMKM unggulan Jateng dari sektor fashion, kriya, furnitur, makanan-minuman, hingga kopi. Kegiatan tersebut juga menghadirkan business matching internasional yang mempertemukan sekitar 30 UMKM potensial ekspor dengan pembeli dari negara ASEAN dan Timur Tengah serta jaringan ritel nasional.

Berbagai agenda pendukung turut digelar dalam kegiatan tersebut, mulai dari Semarak Jateng 2026, talkshow wastra nusantara bersama desainer Wignyo Rahardi, hingga kompetisi kopi dan workshop ekonomi sirkular.

Melalui penyelenggaraan CJIBF dan UMKM Grande 2026, Jateng mencatat potensi peminatan produk UMKM ekspor senilai sekitar 2,48 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp43 miliar, sebagaimana dilansir Kabar SDGs, Senin (12/05/2026). Capaian tersebut memperkuat optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi hijau, inklusif, dan berkelanjutan di Jateng. []

Penulis: Redaksi| Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *