Strategi BTN Ubah Akses Rumah, Subsidi dan Digitalisasi Jadi Andalan
JAKARTA – Upaya memperluas akses pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah terus diperkuat PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Hingga kini, bank pelat merah itu telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada sekitar 6 juta unit rumah, terutama bagi kelompok masyarakat desil 3, sembari mendorong digitalisasi dan penguatan skema bantuan pemerintah untuk menjangkau kelompok yang belum tersentuh layanan perbankan.
Direktur Utama (Dirut) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon LP Napitupulu, menyebut kelompok desil 3 merupakan sasaran utama program KPR subsidi karena masih masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam klasifikasi kesejahteraan nasional, desil 3 berada pada rentang 21 persen hingga 30 persen tingkat kesejahteraan terbawah.
“Kalau desil 3 kpr subsidi di BTN ada 6 juta rumah dari awal program,” kata Nixon LP Napitupulu dalam acara Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Minggu, 24 Mei 2026.
Menurut Nixon, strategi pembiayaan rumah dijalankan melalui dua jalur utama. Pertama, program KPR subsidi yang menyasar masyarakat dengan batas penghasilan tertentu. Kedua, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang diperuntukkan bagi kelompok desil 1 dan 2 yang belum mampu mengakses kredit perbankan.
“KPR tentu dibantu pemerintah. Pemerintah buat program KPR subsisdi yang dibatasi max income. Maksudnya ini memang menyasar masyarakat penghasilan rendah karena banyak unbanked. Kalau ada 10 desil, maka bisa dibilang yang paling sulit tinggal desil 1-2 sedangkan desil 3-8 diintervensi KPR,” jelasnya.
Ia menjelaskan, program BSPS pada 2026 ditargetkan menjangkau sekitar 400 ribu rumah tangga di seluruh Indonesia. Bantuan tersebut diharapkan membantu kelompok masyarakat paling rentan agar memiliki akses terhadap hunian layak.
“Yang desil 1-2 ini pemerintah mengeluarkan BSPS bantuan simulan pembangunan swadaya jadi pemerintah kasih 20-25 juta tahun ini ada 400 ribu per rumah tangga,” lanjutnya.
Selain skema subsidi, pemerintah juga tengah mengkaji tenor KPR hingga 40 tahun untuk memperluas peluang masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah. Langkah ini dinilai menjadi bagian dari strategi penetrasi pembiayaan perumahan nasional.
“Hari ini pemerintah mengkaji KPR sampai 40 tahun mudah-mudahan desil 1-2 bisa dapat. Ini cara penetrasi MBR,” sebutnya.
BTN juga menilai digitalisasi menjadi instrumen penting untuk menjangkau masyarakat unbanked. Nixon menyebut penetrasi telepon seluler kini jauh lebih tinggi dibanding kepemilikan rekening bank. Selama lebih dari 70 tahun, BTN menyalurkan sekitar 6 juta KPR, sementara dalam kurang dari tiga tahun, pengguna mobile banking BTN telah mencapai sekitar 5 juta akun.
“Kita buat digitalisasi untuk perbankan. Penetrasi HP lebih banyak dibanding penetrasi account. BTN usaia 70 lebih KPR 6 jutaan, mobile ga sampai 3 tahun sudah 5 juta mobile banking acc. Menurut saya jumlah KPR ditakeover user mobile,” ungkapnya.
“Penetration rate sekarang lebih mudah karena mobile bisa buka dari rumah. Itu cara kami akses unbanked,” tutupnya.
Transformasi digital dan perluasan skema subsidi dinilai menjadi dua jalur utama BTN dalam mendorong pemerataan akses pembiayaan rumah, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini belum terjangkau layanan perbankan, sebagaimana dilansir Viva, Minggu, (24/05/2026). []
Penulis: Raden Jihad Akbar | Penyunting: Redaksi01
