Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus 75,91 Dolar AS
JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Rabu (08/07/2026) pagi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi global. Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran serta pemberlakuan kembali sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut menjadi pemicu utama kenaikan harga.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.55 WIB, minyak mentah Brent diperdagangkan di level 75,91 dolar AS per barel atau naik 2,36 persen dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar 74,16 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,47 persen menjadi 72,18 dolar AS per barel dari posisi penutupan sebelumnya di 70,44 dolar AS per barel. Pergerakan tersebut memperpanjang tren kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Rabu (08/07/2026).
Dalam dua hari terakhir, harga Brent tercatat telah meningkat sekitar 5,5 persen dibandingkan penutupan perdagangan Senin (06/07/2026). Adapun WTI juga menguat sekitar 5,3 persen pada periode yang sama, menunjukkan respons pasar terhadap meningkatnya risiko gangguan distribusi energi.
Sentimen positif bagi harga minyak muncul setelah pemerintah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas pertahanan udara, sistem pengawasan pantai, lokasi peluncuran rudal antikapal, serta drone milik Iran. Washington juga kembali memberlakukan sanksi perdagangan yang membatasi ekspor minyak Iran ke pasar internasional.
Langkah tersebut memunculkan kembali kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan minyak global.
Meski demikian, pelaku pasar belum menilai kondisi tersebut sebagai situasi yang memicu kepanikan. Senior Strategist (Strategis Senior) BNZ di Wellington, Jason Wong, menilai pasar minyak masih memiliki kemampuan menyerap gangguan pasokan seperti yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menurutnya, ruang penyangga pasokan kini semakin terbatas karena cadangan minyak global berada pada level yang relatif rendah.
Data terbaru juga menunjukkan cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) Amerika Serikat berada pada titik terendah sejak 1983. Kondisi itu dinilai mengurangi kapasitas pemerintah AS dalam meredam gejolak apabila terjadi gangguan pasokan energi dalam skala yang lebih besar.
Lonjakan harga minyak turut memengaruhi pasar keuangan global. Investor mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan inflasi akibat mahalnya harga energi, sehingga memicu aksi jual pada obligasi pemerintah AS. Di sisi lain, pasar saham bergerak lebih hati-hati seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi prospek ekonomi global. []
Redaksi01
