Freeport Rampungkan Penanaman 1,5 Juta Mangrove di NTB
SUMBAWA – Program rehabilitasi ekosistem pesisir di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai tonggak baru setelah sebanyak 1,5 juta bibit mangrove berhasil ditanam di lahan seluas 484 hektare. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan pantai sekaligus mendukung Program Mangrove Nasional melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Penuntasan program penanaman mangrove itu ditandai dengan kegiatan penanaman bersama di Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa (07/07/2026). Kegiatan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, Presiden Direktur (Presdir) PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, serta masyarakat setempat. Informasi tersebut sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu (08/07/2026).
Menteri LH menilai rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia mengapresiasi keterlibatan PTFI dalam mendukung program nasional pemulihan kawasan pesisir yang juga sejalan dengan target penanaman dua miliar pohon sebagai bagian dari upaya menghadapi krisis lingkungan global.
“PTFI telah merehabilitasi hampir 500 ha mangrove di NTB dan menargetkan rehabilitasi 12.000 ha di seluruh Indonesia, terutama di Papua,” katanya.
Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki fungsi strategis sebagai pelindung wilayah pesisir dari abrasi, penyerap karbon alami, sekaligus penopang kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari sektor kelautan dan perikanan.
“Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan lingkungan,” ucapnya.
Sementara itu, Presdir PTFI Tony Wenas menjelaskan program rehabilitasi mangrove di NTB dilaksanakan pada lahan seluas 484 hektare yang terdiri atas 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur. Program tersebut berlangsung sepanjang 2025 hingga 2026 dengan total penanaman mencapai 1,5 juta bibit mangrove.
Tony mengatakan sekitar 73 persen kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilakukan perusahaan berada di luar wilayah operasional PTFI di Papua. Program tersebut merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta PTFI yang ditandatangani pada 2023.
Penentuan lokasi rehabilitasi dilakukan berdasarkan usulan Kementerian LH yang kemudian diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Hingga kini, lokasi yang telah dinyatakan layak untuk program rehabilitasi mangrove PTFI mencapai 834 hektare.
Di luar Papua, PTFI telah merehabilitasi kawasan mangrove seluas 666 hektare dengan sekitar dua juta bibit yang tersebar di delapan provinsi, yakni NTB, Bali, Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kepulauan Bangka Belitung, Riau, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut).
“Untuk Papua, khususnya di Kabupaten Mimika, PTFI telah menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area seluas lebih dari 2.184 hektare,” kata Tony.
Tony menambahkan, pelaksanaan program di NTB juga melibatkan sekitar 1.500 warga lokal mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan rehabilitasi sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.
Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan anggota Komunitas Mangrove Sumbawa, Muhammad Tisnaini. Ia menilai kegiatan rehabilitasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kapasitas kelompok pembibit mangrove.
“Kami telah membina lima kelompok masyarakat yang kini mampu memproduksi bibit hingga melakukan penanaman secara mandiri,” ujarnya.
Menurut Tisnaini, kawasan mangrove yang terjaga turut meningkatkan produktivitas nelayan karena menjadi habitat berbagai jenis ikan.
“Dengan adanya mangrove, mereka tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat pesisir ikut menjaga dan merawat ekosistem mangrove agar manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.
Menutup kegiatan tersebut, Tony menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat rehabilitasi kawasan pesisir melalui kolaborasi lintas sektor.
“PTFI berharap, kolaborasi ini dapat terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir serta menciptakan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tegas Tony. []
Redaksi01
