Kunjungan Wisatawan Membludak, Hotel di Nusa Penida Justru Sepi
KLUNGKUNG – Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Nusa Penida belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel. Di tengah kunjungan yang mencapai sekitar 4.000 wisatawan per hari selama musim liburan, rata-rata okupansi penginapan di kawasan tersebut hanya berada di kisaran 30 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pariwisata karena tingginya arus wisatawan belum memberikan dampak optimal terhadap sektor akomodasi. Mayoritas wisatawan diketahui hanya melakukan perjalanan sehari (day trip) tanpa bermalam di Nusa Penida.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Klungkung, I Putu Darmaya, mengatakan hotel-hotel berskala kecil menjadi yang paling terdampak oleh rendahnya tingkat hunian. Sebaliknya, hotel berbintang atau berfasilitas lengkap masih mampu mempertahankan tingkat okupansi yang tinggi.
“Rata-rata okupansi 30 persen. Kadang-kadang kalau hotel kecil bisa cuma 10 persen. Tapi kalau hotel-hotel besar selalu penuh karena fasilitasnya lengkap. Ada restoran, hiburan malam, gym, dan fasilitas penunjang lainnya.”
Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas menjadi salah satu penyebab wisatawan lebih memilih hotel berukuran besar.
“Sedangkan hotel-hotel kecil rata-rata tidak ada restoran dan service-nya kurang. Jadi, hanya menyediakan tempat menginap.”
Sebagaimana diberitakan Detik, Rabu (15/07/2026), PHRI Klungkung mencatat terdapat sekitar 460 hotel menengah ke bawah yang beroperasi di Nusa Penida. Jumlah tersebut diperkirakan lebih besar karena masih terdapat akomodasi yang belum terdata secara resmi.
Menurut Darmaya, wisatawan yang datang ke Nusa Penida saat ini didominasi pasar Asia, terutama dari China dan India. Namun, sebagian besar hanya berkunjung selama sehari sehingga tidak memberikan kontribusi maksimal terhadap tingkat hunian hotel.
“Day trip banyak dari China dan India, tapi yang menginap kebanyakan dari Eropa. Sayangnya sekarang day trip ramai, tapi mereka tidak menginap. Padahal kalau cuma day trip, mungkin mereka hanya buang sampah saja di sini.”
Ia menilai peningkatan lama tinggal wisatawan akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal. Untuk itu, peningkatan kualitas fasilitas hotel maupun infrastruktur publik dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Darmaya juga menyoroti kondisi penerangan jalan, fasilitas pejalan kaki, hingga minimnya hiburan malam yang membuat wisatawan kurang tertarik menghabiskan malam di Nusa Penida.
“Infrastruktur kita masih kurang bagus. Penerangan belum bagus, kalau malam jalanan gelap. Fasilitas pendukung seperti tempat jalan kaki juga kurang, terutama hiburan malam. Hiburan malam juga tidak bisa berjalan karena hunian hotel kosong.”
Selain itu, menurutnya, jadwal penyeberangan menuju Bali daratan yang masih beroperasi hingga pukul 17.00 Wita turut memudahkan wisatawan untuk langsung kembali tanpa menginap. Ia menilai pembatasan jadwal keberangkatan kapal pada siang hari berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan yang bermalam.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Dinas Pariwisata Klungkung, Ida Bagus Gede Agung Prayudha, mengatakan pemerintah daerah tengah menyiapkan strategi untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan melalui konsep one gate one destination.
“Jika sistem ini berjalan, maka wisatawan lebih menyadari kalau Nusa Penida memiliki banyak spot yang tidak bisa dinikmati hanya dalam sehari. Selain itu, banyak juga destinasi yang menyuguhkan keindahan malam dan pagi hari yang tidak bisa dinikmati kalau tidak menginap,” jelas Agung Prayudha.
Melalui strategi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung berharap wisatawan tidak hanya datang untuk perjalanan singkat, tetapi juga menghabiskan waktu lebih lama di Nusa Penida sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha pariwisata dan masyarakat setempat. []
Redaksi01
