PHRI DIY Bidik Wisata Religi untuk Dongkrak Okupansi Hotel Agustus 2026
YOGYAKARTA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengoptimalkan promosi wisata religi sebagai strategi baru untuk mendongkrak tingkat hunian hotel selama periode low season Agustus 2026. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel yang saat ini masih berada pada kisaran 30-45 persen menjadi sekitar 70 persen hingga akhir bulan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan pasar wisata keluarga yang mendominasi saat musim libur sekolah kini mulai bergeser. Karena itu, pelaku industri perhotelan memperluas sasaran promosi dengan membidik segmen korporasi, komunitas, serta wisata religi yang dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Kalau liburan sekolah pasarnya sudah terbentuk. Sekarang kami menyasar masa low season, seperti Agustus, dengan target pasar korporasi dan berbagai komunitas, termasuk komunitas wisata religi,” ujarnya, sebagaimana dilansir Harianjogja, Sabtu (01/08/2026).
Menurut Deddy, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki beragam destinasi wisata religi lintas agama yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberagaman tersebut diyakini mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus mendorong peningkatan belanja sektor pariwisata.
Sejumlah destinasi yang dinilai memiliki potensi besar antara lain Masjid Jogokariyan, Masjid Gedhe Kauman, kawasan Kotagede, Gereja Kotabaru, Klenteng Fuk Ling Miau, hingga Candi Prambanan. Selain itu, keberadaan Candi Borobudur di wilayah sekitar juga dinilai dapat melengkapi paket perjalanan wisata religi yang terintegrasi.
Deddy menegaskan bahwa konsep promosi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada kunjungan ke tempat ibadah, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang menyeluruh bagi para pengunjung.
“Yang kami tawarkan bukan hanya tempat ibadahnya, tetapi juga pengalaman berwisata. Setelah beribadah, mereka biasanya menginap, berwisata, membeli oleh-oleh, sehingga manfaat ekonominya menyebar ke hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM,” katanya.
Selain mengembangkan paket wisata religi, PHRI DIY juga mengangkat nilai kerukunan antarumat beragama sebagai salah satu keunggulan destinasi wisata di Yogyakarta. Kawasan Kotabaru menjadi salah satu contoh harmonisasi tersebut karena memiliki gereja, masjid, dan bangunan bersejarah yang berada dalam satu kawasan.
Di tengah bertambahnya jumlah hotel baru dan perubahan merek sejumlah hotel di Yogyakarta, PHRI DIY juga mendorong seluruh anggotanya memperkuat promosi melalui media sosial. Setiap pelaku usaha perhotelan dan restoran diminta lebih aktif menampilkan keunggulan layanan agar mampu meningkatkan daya saing sekaligus menarik lebih banyak wisatawan selama periode low season. []
Redaksi01
