Indonesia Punya Nikel, Tapi Masih Hadapi Tantangan Teknologi Baterai

JAKARTA – Penguasaan teknologi menjadi tantangan utama Indonesia untuk mengubah kekayaan nikel menjadi kekuatan industri baterai yang berdaya saing. Persoalannya bukan hanya ketersediaan modal dan bahan baku, tetapi juga kemampuan membawa hasil riset dari laboratorium hingga skala industri serta membangun kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang dikuasai di dalam negeri.

Pandangan tersebut disampaikan President Director PT Industri Baterai Indonesia Aditya Farhan Arif dalam Indonesia Innovator Lecture 2026 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Aditya menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun industri baterai karena ditopang sumber daya mineral, pasar kendaraan listrik, serta ekosistem riset dan talenta yang terus berkembang. Namun, keunggulan tersebut belum cukup apabila tidak diikuti kemampuan menciptakan dan mengembangkan teknologi sendiri.

“Industrialisasi lahir dari inovasi dan harus dijaga melalui inovasi pula, supaya bisa berkesinambungan,” ujar Aditya.

Menurut dia, salah satu persoalan terbesar terletak pada kesenjangan atau valley of death antara hasil penelitian dengan kebutuhan industri. Teknologi yang dihasilkan dari laboratorium membutuhkan serangkaian proses sebelum dapat diterapkan secara komersial, mulai dari pengujian, peningkatan skala, pilot plant, hingga demonstration scale.

“Challenge paling besar adalah pendanaan. Tapi selain pendanaan, kita juga masih ada gap pada riset dasar.”

Tahapan tersebut menjadi penting karena teknologi yang masih berada pada tingkat pilot plant belum sepenuhnya dapat dianggap terbukti secara komersial. Aditya menjelaskan, perbankan umumnya membutuhkan bukti teknologi pada skala demonstrasi sebelum menganggapnya telah terbukti.

“Teknologi yang dinyatakan proven oleh bank itu setidaknya sudah di skala demonstrasi. Jadi pilot saja belum bisa kita katakan proven.”

Kebutuhan biaya untuk melewati tahapan tersebut juga tidak kecil. Pengembangan pipeline material maju, misalnya, dapat membutuhkan investasi lebih dari Rp100 miliar. Kondisi itu membuat tata kelola riset perlu memberikan ruang bagi proses pengujian, evaluasi, kegagalan, dan penyempurnaan teknologi dengan tetap menjaga akuntabilitas.

Kesenjangan riset dan industri menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi baterai berlangsung cepat. Aditya mencontohkan perubahan preferensi teknologi baterai dari nickel manganese cobalt (NMC) menuju lithium iron phosphate (LFP).

Pada 2021, terdapat ekspektasi sekitar 80 persen baterai dunia akan menggunakan teknologi NMC. Namun, perkembangan pasar justru menunjukkan penggunaan LFP semakin kuat. Perubahan tersebut juga tercermin pada pasar kendaraan listrik Indonesia.

Pada 2025, sekitar 100.000 mobil listrik terjual di Indonesia, tetapi hanya sekitar 4 persen yang menggunakan teknologi NMC. Kondisi itu menunjukkan bahwa keputusan investasi industri harus mempertimbangkan perubahan teknologi agar tidak kehilangan daya saing ketika teknologi yang dominan di pasar berubah.

“Ini menjadi pembelajaran bahwa investasi industri harus berjalan bersama dengan kemampuan inovasi.”

Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang ekonomi besar dari pengembangan rantai nilai mineral. Indonesia disebut sebagai negara dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia. Pemanfaatan teknologi juga memungkinkan nikel berkadar rendah yang sebelumnya dianggap sebagai waste digunakan sebagai bahan baku baterai.

Rantai nilai nikel diperkirakan dapat menghasilkan keluaran ekonomi hingga 10 miliar dolar AS per tahun dengan kontribusi sekitar 4 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB) setiap tahun. Indonesia juga memiliki cadangan aluminium yang disebut berada di peringkat keempat dunia serta tembaga yang dapat memperkuat ekosistem industri baterai.

Namun, besarnya nilai tambah mineral belum otomatis menghasilkan keuntungan industri dalam proporsi yang sama.

“Peningkatan nilai tambah itu tidak selalu berbanding lurus dengan profitabilitas”.

Karena itu, pengembangan industri baterai dinilai membutuhkan inovasi pada setiap mata rantai produksi. Selain mengejar peningkatan nilai tambah, Indonesia perlu memastikan proses produksi semakin efisien dan mampu bersaing ketika teknologi serta kebutuhan pasar berubah.

Aditya juga mendorong Indonesia mempersiapkan teknologi baterai generasi berikutnya, termasuk solid-state battery dan sodium-ion battery. Salah satu target yang ingin dicapai adalah menekan harga baterai hingga di bawah 100 dolar AS per kilowatt-jam (kWh), dari harga pasar yang disebut sekitar 150 dolar AS per kWh.

Untuk mencapai sasaran tersebut, riset tidak cukup hanya menghasilkan material berkualitas di laboratorium. Material harus dapat diproduksi melalui proses sintesis yang dapat ditingkatkan skalanya dengan kualitas dan karakteristik yang tetap konsisten.

“Yang kami perlukan adalah riset dasar material itu sendiri, bagaimana proses sintesis yang scalable, sehingga tidak hanya menghasilkan material yang bagus di laboratorium, tetapi juga ketika ditingkatkan skalanya.”

Kebutuhan penelitian tersebut mencakup surface chemistry, electrochemistry, metode analitik online, serta pemahaman mengenai proses yang berlangsung di dalam sistem baterai.

Informasi mengenai kuliah umum tersebut sebagaimana diberitakan Humas BRIN, Senin, (10/08/2026). Dalam forum itu, Aditya juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama antara industri, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra teknologi global.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi atau kegiatan laboratorium. Industri membutuhkan riset yang mampu menjawab persoalan nyata, sedangkan peneliti memerlukan akses terhadap kebutuhan teknologi, data, fasilitas, serta proses peningkatan skala.

Salah satu model yang didorong adalah joint intellectual property, sehingga Indonesia tidak sekadar membeli teknologi dari pihak lain, tetapi turut membangun dan memiliki IP. Pengembangan pusat penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) berskala besar juga dinilai dapat menjadi penghubung antara pemain teknologi global, lembaga riset, dan perguruan tinggi di dalam negeri.

Dalam ekosistem tersebut, BRIN dinilai memiliki peran strategis untuk memperkuat hubungan antara riset dasar, teknologi terapan, industri, dan kebutuhan pembangunan nasional.

Bagi Indonesia, keberhasilan industri baterai pada akhirnya tidak cukup diukur dari jumlah pabrik yang dibangun ataupun nilai ekspor produk hilir. Kemampuan menguasai teknologi, IP, proses produksi, dan inovasi menjadi faktor yang menentukan apakah Indonesia dapat memperoleh manfaat jangka panjang dari kekayaan mineralnya.

“Dengan dukungan Bapak-Ibu, kita bisa menghasilkan inovasi-inovasi yang jauh lebih baik dan untuk Indonesia, agar Indonesia memiliki kemandirian teknologi baterai yang berbasis sumber daya alam nasional,” pungkasnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *