Rupiah Masih Tertekan, Bertahan di Rp17.875 per Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan Kamis (13/08/2026) ke level Rp17.875 per dolar Amerika Serikat (AS), meskipun tekanan terhadap dolar AS mulai mereda setelah inflasi AS menunjukkan perlambatan. Pelemahan rupiah juga dibayangi potensi arus modal asing keluar dari pasar saham domestik menyusul evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.875 per dolar AS. Pergerakan tersebut melanjutkan tren negatif yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Pada Rabu (12/08/2026), rupiah ditutup melemah 0,20 persen ke level Rp17.865 per dolar AS. Dengan demikian, mata uang Garuda telah mencatat pelemahan selama dua hari perdagangan berturut-turut.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, justru bergerak turun. Pada pukul 09.00 WIB, DXY melemah 0,08 persen ke posisi 99,931 setelah sehari sebelumnya menguat 0,19 persen.

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan inflasi konsumen AS pada Juli. Inflasi tahunan AS tercatat turun menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen pada Juni. Inflasi inti yang tidak memperhitungkan pangan dan energi juga melandai menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen.

Perlambatan inflasi tersebut sempat memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang karena membuka ruang bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk mempertimbangkan kebijakan suku bunga yang lebih longgar.

Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 40 persen. Angka tersebut turun dari 44 persen sebelum data inflasi diumumkan dan 55 persen pada pekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi tersebut turut dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan berkurangnya lapangan kerja pada Juli.

Namun, sentimen positif dari pelemahan inflasi belum mampu sepenuhnya menekan dolar AS. Pelaku pasar masih melihat The Fed berhati-hati karena tekanan harga belum sepenuhnya mereda.

Dukungan lain bagi dolar AS berasal dari imbal hasil obligasi pemerintah AS. Lelang surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun mencatat imbal hasil 4,683 persen, yang menjadi level tertinggi sejak 2007.

Ketidakpastian geopolitik juga turut menjaga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap relatif aman. Ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi perhatian setelah perundingan terkait pelaksanaan kesepakatan sementara pada Juni dilaporkan belum menunjukkan perkembangan berarti.

Situasi di sekitar Selat Hormuz yang masih belum pasti turut menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Perkembangan geopolitik tersebut berpotensi memengaruhi sentimen risiko global dan pada akhirnya berdampak terhadap pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada evaluasi indeks MSCI Agustus yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari daftar indeks. Perubahan komposisi tersebut berpotensi mendorong investor asing yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan untuk menyesuaikan portofolionya.

Penyesuaian portofolio tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah apabila investor asing melepas aset saham domestik dan mengonversi hasil penjualannya ke dolar AS. Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta arah arus modal asing. Informasi mengenai pergerakan rupiah tersebut sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Kamis, (13/08/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *