Wall Street Merah, Investor Cemas Inflasi dan Suku Bunga AS

NEW YORK – Kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali menguat setelah konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah naik dan tekanan inflasi meningkat. Sentimen tersebut turut membebani Bursa Saham Amerika Serikat (AS), dengan tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa (01/09/2026).

Pasar kini memperhitungkan peluang lebih besar bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan September mencapai sekitar 68,2 persen, meningkat dari sekitar 39,6 persen sepekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah harga minyak mentah melonjak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan harga energi dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi dan membuat ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara juga meningkat, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa bank-bank sentral perlu menaikkan suku bunga lebih cepat untuk mengendalikan inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) acuan kembali menguat setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 19 bulan pada Senin (31/08/2026).

“Setelah komentar hawkish Kevin Warsh pada Jumat, terjadi serangan di Iran dan harga minyak naik. Ini merupakan kombinasi sempurna untuk hari yang risk-off di pasar yang diperdagangkan dekat level tertinggi sepanjang masa,” ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi Baird di Louisville, Kentucky, sebagaimana dilansir Kontan, Rabu, (02/09/2026).

Tekanan terhadap pasar saham juga diperkuat oleh pandangan pelaku pasar terhadap September, yang secara historis kerap menjadi bulan dengan kinerja kurang baik bagi bursa saham AS. Data Fisher Investments yang mengutip Finaeon menunjukkan September merupakan satu-satunya bulan sejak 1926 yang mencatat rata-rata imbal hasil negatif.

“September secara historis merupakan bulan terburuk dan selisihnya cukup besar. Terutama pada tahun pemilu sela, ini biasanya menjadi periode ketika kecemasan dan ketidakpastian politik mulai membebani pasar saham,” kata Mayfield.

Pandangan lebih ketat terhadap kebijakan moneter juga muncul setelah Kevin Warsh menyampaikan sikap hawkish terkait pentingnya mengembalikan inflasi ke target bank sentral. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah semakin memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga dapat kembali meningkat.

“Kami memiliki The Fed yang sangat, sangat hawkish dan mereka benar-benar ingin menaikkan suku bunga,” kata Jay Hatfield, manajer portofolio InfraCap di New York.

Hatfield menilai The Fed juga berupaya menunjukkan independensinya dari pemerintahan AS. Sikap tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk saham.

Di tengah kekhawatiran terhadap inflasi, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis Selasa juga memperlihatkan tanda perlambatan aktivitas ekonomi. Laporan Survei Lowongan dan Perputaran Tenaga Kerja (Job Openings and Labor Turnover Survey/JOLTS) dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan perputaran di pasar tenaga kerja mulai melambat.

Sementara itu, data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) menunjukkan aktivitas manufaktur kehilangan momentum. Belanja pembangunan perumahan juga mengalami penurunan, menambah kekhawatiran terhadap arah pertumbuhan ekonomi AS.

Sejumlah indikator tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi perekonomian AS, mulai dari tekanan harga, keterbatasan pasokan, ketidakpastian tarif perdagangan hingga meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pada perdagangan Selasa, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 418,97 poin atau 0,79 persen menjadi 52.766,93. Indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) melemah 54,67 poin atau 0,71 persen menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite turun 271,11 poin atau 1,03 persen menjadi 26.099,77.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor energi menjadi salah satu sektor yang mampu mencatatkan kenaikan karena mendapat dukungan dari lonjakan harga minyak mentah. Sebaliknya, sektor barang konsumsi nonprimer (consumer discretionary) mengalami penurunan paling besar.

Indeks Dow Jones Transportation Average, yang kerap menjadi salah satu indikator kondisi perekonomian, turut mencatat kinerja buruk setelah anjlok 2,5 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia (Philadelphia SE Semiconductor Index) juga turun 2,1 persen dan seluruh saham konstituennya ditutup melemah.

Di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange/NYSE), jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,8 berbanding 1. Sebanyak 143 saham mencatatkan level tertinggi baru, sedangkan 410 saham menyentuh level terendah baru.

Kondisi tersebut menunjukkan pasar memasuki September dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Pergerakan harga minyak, perkembangan konflik di Timur Tengah, data ekonomi AS, serta keputusan The Fed selanjutnya diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah Wall Street dalam beberapa pekan mendatang. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *