IHSG Tetap Hijau Saat Bursa Asia Berguguran, Naik ke 6.610
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan pada awal perdagangan Rabu (02/09/2026) dengan tetap bergerak menguat ketika mayoritas bursa saham Asia mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pada pukul 09.08 WIB, IHSG naik 10,876 poin atau 0,16 persen ke level 6.610,819. Penguatan tersebut terjadi di tengah pelemahan sejumlah pasar saham utama Asia yang tertekan kenaikan harga minyak dan aksi jual di pasar obligasi global.
Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 252 saham tercatat menguat, sedangkan 234 saham melemah dan 220 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan mencapai 5,6 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2 triliun.
Pergerakan positif IHSG terutama ditopang enam indeks sektoral. Tiga sektor yang membukukan penguatan tertinggi adalah IDX-Techno yang naik 3,27 persen, IDX-Finance yang menguat 0,94 persen, serta IDX-Health yang meningkat 0,65 persen.
Di kelompok indeks LQ45, sejumlah saham mencatat kenaikan cukup signifikan. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 2,40 persen menjadi Rp1.495 per saham, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 2,25 persen menjadi Rp2.730 per saham, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) bertambah 2,02 persen menjadi Rp26.525 per saham.
Di sisi lain, beberapa saham penghuni LQ45 justru mengalami tekanan. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 3,87 persen menjadi Rp870 per saham. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melemah 3,45 persen menjadi Rp10.500 per saham, sedangkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) terkoreksi 3,24 persen menjadi Rp2.690 per saham.
Penguatan IHSG juga menjadi perhatian karena terjadi ketika sentimen eksternal masih dibayangi ketidakpastian. Bursa saham Asia bergerak melemah setelah aksi jual di pasar obligasi global merembet ke kawasan tersebut, ditambah dampak meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,8 persen pada awal perdagangan. Indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) Korea Selatan dilaporkan anjlok sekitar 3 persen, sementara Nikkei 225 Jepang merosot 2,2 persen.
Tekanan di kawasan Asia turut berkaitan dengan kenaikan harga minyak mentah. Kontrak berjangka minyak Brent naik 0,7 persen menjadi US$95,34 per barel dan melanjutkan penguatan setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lima pekan.
Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi, terutama apabila gangguan terhadap pasokan minyak melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Kondisi tersebut juga berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan. Dalam analisis perdagangan hari ini, perusahaan tersebut menempatkan level 6.650 sebagai area resistance penting yang perlu diperhatikan investor.
“Kami memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan resistance di 6.650. Secara teknikal, IHSG berhasil bertahan di atas MA20 di 6.416 dan mempertahankan struktur uptrend,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Jika IHSG mampu menembus atau breakout dari level 6.650 dan bertahan di atasnya, penguatan indeks dinilai berpeluang berlanjut menuju kisaran 6.665 hingga 6.732.
Dengan demikian, perdagangan saham pada Rabu pagi memperlihatkan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tahan meskipun sentimen global cenderung negatif. Pergerakan IHSG selanjutnya akan dipengaruhi kemampuan indeks mempertahankan penguatan serta perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak dunia, sebagaimana dilansir Kontan, Rabu (02/09/2026). []
Redaksi01
