Rupiah Dibuka Melemah 0,1 Persen ke Rp17.761 per Dolar AS
JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Rabu (02/09/2026) kembali berada di zona pelemahan. Namun, tekanan terhadap mata uang Indonesia tersebut terjadi ketika mayoritas mata uang di kawasan Asia juga bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp17.761 per dolar AS, atau melemah 0,1 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.744 per dolar AS.
Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan yang juga dialami sejumlah mata uang utama di Asia pada awal perdagangan. Di antara mata uang kawasan, peso Filipina menjadi yang mengalami pelemahan paling dalam hingga pukul 09.00 WIB, setelah turun 0,37 persen terhadap dolar AS.
Baht Thailand menyusul dengan penurunan sebesar 0,21 persen. Yen Jepang juga mengalami tekanan dengan pelemahan 0,12 persen, sedangkan ringgit Malaysia dan dolar Taiwan masing-masing terkoreksi 0,11 persen.
Tekanan turut terlihat pada dolar Singapura yang melemah 0,06 persen serta yuan China yang turun 0,02 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat bergerak melemah tipis sebesar 0,005 persen.
Di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia tersebut, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang mencatat penguatan terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Ginseng itu naik 0,18 persen terhadap mata uang AS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah pada awal perdagangan tidak terjadi secara terpisah dari dinamika pasar regional. Sebagian besar mata uang Asia juga menghadapi tekanan terhadap dolar AS, dengan besaran pelemahan yang berbeda-beda.
Rupiah sendiri dibuka melemah Rp17 dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Dengan demikian, perhatian pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada arah pergerakan mata uang domestik sepanjang perdagangan hari ini, termasuk perkembangan sentimen di pasar regional dan global.
Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan karena dapat memengaruhi aktivitas perdagangan, biaya impor, serta ekspektasi pelaku ekonomi terhadap kondisi pasar keuangan.
Data awal perdagangan tersebut juga memperlihatkan adanya perbedaan respons di antara mata uang Asia. Ketika sejumlah mata uang mengalami koreksi, won Korea Selatan justru mampu bergerak menguat dan menjadi pengecualian di tengah tekanan regional.
Berdasarkan data pergerakan mata uang pada awal perdagangan, sebagaimana dilansir Kontan, Rabu (02/09/2026), rupiah berada di antara mayoritas mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS.
Perkembangan nilai tukar rupiah sepanjang perdagangan Rabu masih akan menjadi perhatian pasar. Arah pergerakan mata uang domestik pada sesi berikutnya akan menunjukkan apakah tekanan pada awal perdagangan dapat berlanjut atau rupiah mampu memangkas pelemahannya seiring perubahan sentimen di pasar keuangan. []
Redaksi01
