SCBD Bukan Lagi Ruang Eksklusif, UMKM Lokal Unjuk Produk

JAKARTA – Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) di Jakarta tidak hanya menjadi pusat aktivitas bisnis dan perkantoran, tetapi mulai dimanfaatkan sebagai ruang pemasaran bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kreator lokal. Kehadiran pelaku usaha dalam The Local Market ID: Pasar Wiwitan SCBD menunjukkan bahwa produk berbasis bahan dan kearifan lokal memiliki peluang menjangkau konsumen di kawasan yang selama ini identik dengan segmen premium.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Waka Bekraf) Irene Umar saat mengunjungi kegiatan tersebut pada Minggu (06/09/2026). Menurutnya, ruang kreatif di kawasan perkotaan dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas.

“SCBD yang sering dianggap terlalu premium untuk UMKM hari ini dibuktikan sebaliknya, semua berkumpul, berjualan, dan menampilkan produk luar biasa berbasis bahan serta kearifan lokal,” ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 7 September 2026.

Irene menilai perluasan pasar UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pelaku usaha secara individual. Pemerintah, komunitas, pelaku bisnis, dan berbagai pemangku kepentingan perlu membangun kerja sama agar produk lokal memiliki lebih banyak akses untuk diperkenalkan kepada konsumen.

Kolaborasi tersebut dinilai semakin penting karena Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi pembeda produk ekonomi kreatif. Pengembangan usaha, menurut Irene, perlu tetap mempertahankan identitas lokal sehingga pertumbuhan pasar tidak menghilangkan nilai budaya yang menjadi sumber inspirasi produk.

“Kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan para pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mendukung ekosistem ini, agar kita terus kembali ke akar budaya dan menjaga kearifan lokal turun-temurun,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan agar pengembangan ekonomi kreatif tidak terhambat oleh kepentingan masing-masing lembaga maupun sektor. Sinergi antarpihak diperlukan agar akses pasar dapat terbuka lebih luas dan manfaat pertumbuhan ekonomi kreatif bisa dirasakan lebih banyak pelaku usaha.

“Sesuai pesan Presiden, hentikan ego sektoral dan buang ego instansi, kita harus bergotong royong menjaga persatuan karena ini bukan tentang brand atau lembaga, melainkan tentang niat tulus untuk Indonesia dan Merah Putih,” tegasnya.

Perluasan pasar tersebut pada akhirnya juga membutuhkan dukungan dari sisi permintaan. Masyarakat sebagai konsumen dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha lokal dengan meningkatkan kebiasaan menggunakan produk buatan dalam negeri.

“Pesan untuk masyarakat mari kita perkuat fondasi ekonomi nasional dengan membiasakan diri untuk bangga membeli dan menggunakan produk dalam negeri,” tuturnya.

Potensi pasar ekonomi kreatif tercermin dari kinerja ekspor sejumlah subsektor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), subsektor fesyen mencatat nilai ekspor barang ekonomi kreatif sebesar 5,85 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada Januari-April 2026.

Pada periode yang sama, subsektor kriya mencatat ekspor sebesar 3,82 miliar dolar AS, sedangkan kuliner mencapai 0,28 miliar dolar AS. Ketiga subsektor tersebut juga menjadi penyumbang utama ekonomi kreatif pada 2025.

Subsektor kuliner memberikan kontribusi 41,06 persen, disusul fesyen sebesar 14,77 persen dan kriya 10,70 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa produk yang dekat dengan kekayaan budaya dan sumber daya lokal memiliki ruang ekonomi yang besar, baik di pasar domestik maupun internasional.

Di tingkat pelaku usaha, peluang tersebut salah satunya dirasakan jenama Goodthings yang mengikuti The Local Market ID. Usaha yang menawarkan busana pria dan wanita dengan unsur wastra Nusantara itu menilai kehadiran di ruang publik seperti SCBD dapat memberikan dampak langsung terhadap pemasaran.

Co-Founder Goodthings Angela mengatakan, keikutsertaan dalam kegiatan sebelumnya menghasilkan omzet sekitar Rp14 juta selama dua hari. Selain transaksi, kegiatan tersebut juga memberikan efek lanjutan berupa bertambahnya pelanggan dan pengikut di media sosial.

“Buat kami kegiatan ini dampaknya besar banget, pembeli datang terus, repurchasing terus, dan followers kita nambah, terutama dari masyarakat sekitar SCBD,” kata Angela.

Menurut Angela, keterlibatan pemerintah dalam kegiatan pemasaran produk lokal juga memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Kehadiran Wamenekraf dinilai dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk yang ditawarkan oleh peserta.

The Local Market ID sendiri menjadi salah satu wadah yang mempertemukan UMKM dan kreator lokal dengan konsumen. Kegiatan tersebut digelar secara rutin pada akhir pekan pertama setiap bulan dan menghadirkan lebih dari 200 tenant terkurasi.

Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, barang antik hingga lokakarya dan pertunjukan musik. Keberagaman tersebut membuat pasar kreatif tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas dan karya lokal kepada masyarakat.

Dengan semakin terbukanya ruang pemasaran di kawasan strategis, pelaku UMKM diharapkan tidak berhenti pada peningkatan penjualan jangka pendek. Akses konsumen, penguatan jenama, pertambahan pelanggan, dan terbentuknya jejaring usaha dapat menjadi modal untuk mendorong pelaku ekonomi kreatif naik kelas secara berkelanjutan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *