Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok, Harga Minyak Kembali Naik
JAKARTA – Aktivitas pelayaran komoditas di Selat Hormuz terus menyusut di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar energi karena jalur strategis itu merupakan salah satu pintu utama distribusi minyak dunia, sehingga gangguan terhadap lalu lintas kapal berpotensi memperketat pasokan dan menjaga harga minyak tetap tinggi.
Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melintasi Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2026 dan mencerminkan meningkatnya risiko bagi aktivitas perdagangan energi di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah pasukan AS dan Iran kembali terlibat dalam serangkaian serangan terhadap kapal. Menurut Komando Pusat AS (US Central Command), pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (05/09/2026), salah satunya berada di lepas pantai Pulau Kharg yang dikenal sebagai salah satu pusat utama ekspor minyak Iran.
Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melintas melalui rute tidak resmi di Selat Hormuz. IRGC juga menyebut telah menargetkan tiga kapal AS di wilayah lainnya.
Perkembangan tersebut membuat aktivitas pelayaran komersial semakin berisiko. Perusahaan intelijen maritim Matisks menilai rangkaian serangan itu menunjukkan peningkatan signifikan dalam konflik maritim.
“Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, sehingga secara signifikan mengaburkan batas antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial,” kata Matisks.
Situasi itu menjadi perhatian penting bagi pasar karena Selat Hormuz memiliki peran besar dalam rantai pasok energi global. Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur tersebut.
Dengan lalu lintas kapal yang semakin terbatas, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan terganggunya pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah. Risiko tersebut turut mendorong harga minyak mentah bergerak naik pada awal perdagangan Asia, Senin (07/09/2026).
Harga minyak mentah Brent tercatat naik 52 sen atau 0,54 persen menjadi 96,80 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 66 sen atau 0,72 persen menjadi 92,14 dollar AS per barrel.
Penguatan tersebut melanjutkan tren kenaikan pada pekan sebelumnya. Harga Brent melonjak 7,8 persen sepanjang pekan lalu, sedangkan WTI menguat hampir 10 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar semakin memasukkan risiko gangguan pasokan Timur Tengah ke dalam pembentukan harga minyak.
Ancaman terhadap jalur pelayaran juga diperkuat oleh pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei. Ia menyebut zona terbatas akan diumumkan di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang, menurut media pemerintah Iran.
Langkah tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perusahaan pelayaran dan pelaku perdagangan komoditas yang menggunakan jalur tersebut. Jika pembatasan berlangsung lebih lama, distribusi minyak dari negara-negara produsen di kawasan dapat menghadapi hambatan tambahan.
Di tengah situasi tersebut, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memilih mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober 2026. Keputusan itu diambil dalam pertemuan pada Minggu (06/09/2026).
OPEC+ menyatakan masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan kebijakan produksi berikutnya. Keputusan mempertahankan kebijakan produksi tersebut membuat pasar kini tidak hanya mencermati perkembangan konflik, tetapi juga arah pasokan dari negara-negara produsen.
Analis ANZ memperkirakan ketegangan antara AS dan Iran kemungkinan berlangsung dalam waktu panjang dengan diselingi aksi militer terukur. Skenario tersebut dinilai dapat menunda pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah secara penuh.
“Kami memperkirakan ekspor tetap terbatas hingga akhir 2026, sebelum pembukaan kembali secara bertahap pada akhir kuartal IV 2026,” tulis analis ANZ dalam catatannya.
ANZ memperkirakan volume pasokan minyak belum akan kembali ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027. Artinya, meskipun kondisi pelayaran dan ekspor nantinya mulai membaik, pasar minyak global masih berpotensi menghadapi periode pemulihan yang panjang.
Perkembangan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pun menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar dalam beberapa waktu ke depan. Semakin lama aktivitas pelayaran berada pada tingkat rendah, semakin besar pula risiko terhadap kelancaran distribusi energi dan kestabilan harga minyak dunia, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (07/09/2026). []
Redaksi01
