Bursa Asia Menguat, Inflasi AS Jadi Ancaman Baru bagi Pasar
JAKARTA – Penguatan bursa saham Asia pada awal pekan menghadapi tantangan baru dari potensi kenaikan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter. Lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran membuat investor kembali mencermati prospek suku bunga sejumlah bank sentral utama dunia, meski pasar saham sempat mendapat dorongan dari data ketenagakerjaan AS yang dinilai solid.
Pada perdagangan Senin (07/09/2026), indeks Nikkei Jepang menguat 2 persen setelah mengalami penurunan dengan persentase yang sama pada pekan sebelumnya. Bursa Korea Selatan mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 3 persen, sedangkan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,9 persen.
Namun, pergerakan positif tersebut berlangsung di tengah meningkatnya harga minyak. Harga minyak mentah Brent naik 0,2 persen menjadi US$96,45 per barel, sementara minyak mentah AS meningkat 0,4 persen menjadi US$91,85 per barel. Kenaikan itu terjadi setelah harga minyak Brent melonjak hampir 10 persen sepanjang pekan sebelumnya.
Kondisi pasar energi kembali memanas setelah AS dan Iran terlibat serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan Teluk. Iran juga menyatakan akan mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Ketegangan tersebut muncul setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker Iran. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke dua kapal Angkatan Laut AS.
Perkembangan di kawasan tersebut menjadi perhatian investor karena kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Jika tekanan harga kembali menguat, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.
Perhatian utama pasar kini tertuju pada data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis Jumat. Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti meningkat 0,2 persen secara bulanan, meski terdapat risiko kenaikan hingga 0,3 persen.
Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Laporan ketenagakerjaan AS pada pekan sebelumnya telah memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Pasar saat ini memperkirakan peluang 58 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 16 September. Sementara itu, kemungkinan kenaikan pada Oktober diperkirakan mencapai 70 persen.
Tekanan terhadap saham juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury bertenor 10 tahun berada di sekitar 4,784 persen, mendekati level tertinggi sejak akhir 2023. Apabila data CPI lebih tinggi daripada perkiraan, imbal hasil tersebut berpotensi bergerak semakin dekat ke level psikologis 5 persen.
Kenaikan imbal hasil obligasi dapat membuat aset saham menjadi relatif kurang menarik karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang kenaikan indeks saham meski sentimen ekonomi global masih positif.
Selain The Fed, investor juga mencermati langkah bank sentral lain. Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 2,75 persen pada Kamis. Pasar juga melihat peluang sekitar 75 persen untuk kenaikan berikutnya menjadi 3 persen pada Desember.
Di Jepang, pasar memperkirakan peluang 75 persen Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points pada 18 September. Peluang kenaikan berikutnya pada Desember berada di sekitar 60 persen.
Global Head of Economics JPMorgan Bruce Kasman menilai arah kebijakan bank sentral mulai berubah setelah sebelumnya cenderung menunggu dampak guncangan energi.
“Namun, bank sentral kini mulai bergerak,” ujar Kasman.
JPMorgan memperkirakan ECB dan BoJ masih akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sebelum akhir tahun. Kasman juga melihat alasan kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dan agresif dibandingkan perkiraan dasar JPMorgan yang saat ini mengasumsikan kenaikan pada Desember.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS hanya memperoleh dorongan terbatas dari laporan ketenagakerjaan. Kekhawatiran terhadap peningkatan utang AS serta ketidakpastian kebijakan pemerintah AS masih menjadi faktor yang menekan daya tarik dolar.
Indeks dolar berada di level 99,135, tidak jauh dari posisi terendah terbaru 98,558. Euro bertahan di US$1,1614, sedangkan dolar AS melemah tipis terhadap yen menjadi 156,07 yen. Yen masih mendapat dukungan setelah menguat 2,4 persen pada pekan sebelumnya akibat spekulasi bahwa BoJ akan memperketat kebijakan moneter secara lebih agresif.
Sementara itu, harga emas relatif stabil di sekitar US$4.426 per ons troi setelah sebelumnya mendapatkan dukungan pada level US$4.282. Pergerakan emas, dolar, obligasi, dan saham menunjukkan investor masih menimbang kembali risiko inflasi serta prospek suku bunga di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dengan demikian, penguatan bursa Asia pada awal pekan belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya sentimen pasar. Investor masih harus mencermati data inflasi AS, pergerakan harga energi, serta keputusan bank sentral karena ketiganya dapat menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan, sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (07/09/2026). []
Redaksi01
