BI Rate Hari Ini Diputuskan, Ekonom Terbelah antara Naik ke 6 Persen atau Bertahan
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026 pada Rabu (22/07/2026). Menjelang pengumuman tersebut, proyeksi pelaku ekonomi terbelah antara kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen atau tetap dipertahankan di level 5,75 persen.
Keputusan BI dinilai penting karena akan menentukan arah kebijakan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meningkatnya inflasi, serta ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang 2026, BI telah tiga kali menaikkan BI Rate dengan total 100 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, memproyeksikan BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan akibat tingginya permintaan valuta asing (valas) dari korporasi domestik, terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen.
“Kami melihat BI seharusnya melanjutkan siklus peningkatan bunga acuan dengan kenaikan 25 bps, tidak sebesar sebelumnya yang mencapai 50 bps.”
Irman menilai inflasi yang bergerak mendekati batas atas target BI, kenaikan harga minyak dunia, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino menjadi faktor yang perlu diantisipasi melalui kebijakan moneter yang lebih ketat.
“Kalo kita lihat dari sisi nilai tukar memang beberapa hari ini terjadi penguatan, namun kalo kita lihat dinamika permintaan korporasi thd dolar dan potensi ketidakpastian ke depan, rupiah masih berpotensi mengalami tekanan.”
Di sisi lain, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu (22/07/2026), lembaga tersebut menilai kenaikan inflasi masih berada dalam kisaran sasaran BI sehingga tambahan kenaikan suku bunga belum tentu menjadi langkah yang paling efektif.
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyebut inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen secara year on year (yoy), naik dari 3,08 persen pada Mei 2026. Namun, menurutnya, tekanan inflasi lebih banyak dipicu faktor sisi penawaran (supply side), seperti kenaikan biaya transportasi, energi, dan kebutuhan pendidikan menjelang tahun ajaran baru.
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang.”
Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah selama ini lebih dipengaruhi tingginya permintaan dolar Amerika Serikat dari investor global dan korporasi domestik, sehingga kenaikan suku bunga tambahan diperkirakan hanya memberi manfaat terbatas terhadap penguatan rupiah.
“Inflasi diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia, meskipun risiko kenaikan meningkat menyusul ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah yang berpotensi menaikkan harga energi global dan berkontribusi terhadap inflasi impor.”
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang sambil mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan terbaru terhadap nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik.”
Keputusan RDG BI Juli 2026 akan menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, inflasi, pasar keuangan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun ini. []
Redaksi01
