BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Rupiah Dijaga Tetap Stabil
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Rabu (15/04/2026) sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global, sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran target.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan turut diikuti dengan penetapan suku bunga fasilitas simpanan atau deposit facility sebesar 3,75 persen serta suku bunga fasilitas pinjaman atau lending facility di level 5,50 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga likuiditas perbankan sekaligus menopang stabilitas sistem keuangan nasional.
Bank Indonesia menegaskan, kebijakan moneter saat ini difokuskan pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan eksternal. Berdasarkan data terkini, rupiah berada di kisaran Rp16.985 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah tipis dibandingkan periode sebelumnya.
“Kebijakan ini merupakan langkah pre-emptive dan forward-looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” sebagaimana diberitakan Kompastv, Rabu (15/04/2026).
Dari sisi fundamental, BI menilai kondisi ekonomi domestik masih cukup kuat. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tercatat mencapai 5,39 persen secara tahunan pada kuartal sebelumnya, mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia hingga April 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Posisi tersebut dinilai memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka menengah.
Kebijakan mempertahankan BI Rate juga dinilai memberikan kepastian bagi sektor perbankan dan masyarakat. Dengan suku bunga acuan yang stabil, bank tidak terdorong menaikkan bunga kredit secara agresif, sehingga beban cicilan, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR), dapat tetap terkendali.
Di sisi lain, kepastian arah kebijakan moneter ini turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan, khususnya sektor perbankan dan properti, yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, didukung konsumsi rumah tangga dan peningkatan investasi. Sementara itu, inflasi tetap dijaga melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam pengendalian harga pangan.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati dinamika global dan domestik, serta siap menyesuaikan kebijakan apabila terjadi perubahan signifikan terhadap inflasi maupun stabilitas nilai tukar rupiah. []
Penulis: Rina Kartika | Penyunting: Redaksi01
