BoE Tahan Suku Bunga 3,75 Persen, Waspadai Ancaman Inflasi Energi
LONDON – Bank of England (BoE) memutuskan mempertahankan Bank Rate di level 3,75 persen dalam rapat kebijakan moneter yang digelar Kamis (30/07/2026). Di balik keputusan tersebut, bank sentral Inggris menegaskan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.
Keputusan mempertahankan suku bunga ini sekaligus menunjukkan sikap hati-hati BoE dalam merespons ketidakpastian ekonomi global. Langkah tersebut juga sejalan dengan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang sebelumnya memilih menahan suku bunga acuannya di tengah perkembangan inflasi internasional.
Dalam rapat kebijakan tersebut, tiga anggota Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4 persen. Perbedaan pandangan itu mencerminkan adanya kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi yang dipicu gejolak harga energi, sebagaimana diberitakan Medcom, Jumat (31/07/2026).
BoE menyatakan harga minyak mentah dan berbagai produk energi olahan masih berada di atas level sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari 2026, meskipun sempat mengalami fluktuasi. Menurut bank sentral tersebut, dampak penuh dari kenaikan harga energi terhadap perekonomian Inggris masih belum dapat dipastikan.
Di sisi lain, inflasi konsumen Inggris tercatat melambat menjadi 2,6 persen dibandingkan hasil pertemuan kebijakan pada Juni 2026. Meski demikian, BoE memperkirakan tekanan inflasi berpotensi meningkat kembali menjelang akhir tahun akibat tingginya harga energi. Angka tersebut juga masih berada di atas target inflasi jangka menengah sebesar dua persen.
BoE menegaskan kebijakan moneter tidak dapat memengaruhi harga energi secara langsung. Namun, penyesuaian suku bunga tetap diarahkan untuk mencegah kenaikan harga energi berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan berlangsung dalam jangka panjang.
Bank sentral Inggris juga menyampaikan bahwa arah kebijakan moneter berikutnya akan sangat bergantung pada besarnya guncangan harga energi, durasi tekanan tersebut, serta dampaknya terhadap kondisi keuangan, harga barang, dan pertumbuhan upah.
Selain itu, BoE menilai hingga kini belum terdapat bukti kuat mengenai munculnya second-round effects, yakni kondisi ketika kenaikan harga energi memicu kenaikan upah dan harga barang secara berkelanjutan. Meski demikian, risiko tersebut dinilai akan meningkat apabila harga energi tetap bertahan di level tinggi dalam waktu lama.
Melalui kebijakan tersebut, BoE menegaskan kesiapannya mengambil langkah lanjutan apabila tekanan inflasi kembali menguat demi memastikan inflasi bergerak menuju target dua persen. []
Redaksi01
