Bursa Asia Melemah, IHSG Dibayangi Tekanan Global dan Geopolitik
JAKARTA – Tekanan sentimen global diperkirakan masih membayangi perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (20/05/2026), setelah indeks saham domestik sebelumnya merosot 228,5 poin atau 3,46 persen ke level 6.370,6. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) serta kembali memanasnya ketegangan geopolitik global.
Pergerakan bursa saham Asia juga tercatat melemah sejalan dengan kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap pasar modal, termasuk IHSG yang masih dibayangi aksi jual.
Tekanan eksternal semakin kuat setelah bursa saham Wall Street kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa (19/05/2026). Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS memicu kekhawatiran atas keberlanjutan penguatan pasar saham global, sementara pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan ke Iran turut menambah sentimen negatif.
Di tengah tekanan pasar itu, sejumlah sekuritas mulai mengarahkan perhatian investor pada strategi selektif terhadap saham-saham berfundamental kuat. Mandiri Sekuritas merekomendasikan tiga saham yang layak dicermati dalam perdagangan hari ini, masing-masing dengan pendekatan beli pada area tertentu, target harga, dan batas penghentian kerugian.
Salah satu saham direkomendasikan beli dari posisi penutupan 3.080 dengan target 3.150 serta batas stop loss di 3.040. Sementara saham lain dengan penutupan 5.950 diproyeksikan mengarah ke 6.075 dengan area perlindungan di 5.875. Saham ketiga ditutup di level 3.810 dengan target 3.900 dan batas kerugian di 3.770.
Sementara itu, MNC Sekuritas menilai peluang teknikal masih terbuka pada empat emiten pilihan, yakni ANTM, INDF, JPFA, dan TLKM. Analisis ini muncul saat investor mulai mencari peluang akumulasi di tengah koreksi pasar, sebagaimana diberitakan Investor Daily, Rabu (20/05/2026).
“ANTM terkoreksi 3,16% ke 3.060 dan masih didominasi oleh tekanan jual. Kami memperkirakan, posisi ANTM saat ini sedang berada pada akhir dari wave 3 dari wave (C).”
Untuk saham INDF, tekanan jual dinilai masih tertahan oleh moving average 60 hari.
“INDF terkoreksi 1,12% ke 6.650 dan masih didominasi oleh tekanan jual, namun koreksi INDF tertahan oleh MA60. Kami perkirakan, posisi INDF saat ini sedang berada pada bagian dari wave [b] dari wave B.”
Adapun JPFA dinilai masih bergerak dalam rentang teknikal tertentu meski tekanan jual belum mereda.
“JPFA terkoreksi 0,79% ke 2.510 dan masih didominasi tekanan jual, pergerakan JPFA pun masih berada pada range MA20 dan MA60-nya. Kami perkirakan, posisi JPFA saat ini sedang membentuk wave (d) dari wave [b] dari wave 2 pada pola triangle.”
Sementara TLKM bergerak mendatar, namun masih didominasi volume pembelian.
“TLKM bergerak flat di 3.080 dan masih didominasi oleh volume pembelian, namun penguatannya tertahan oleh MA60. Kami memperkirakan, posisi TLKM sedang berada pada bagian dari wave [c] dari wave B.”
Di tengah gejolak global dan tekanan teknikal yang masih kuat, pelaku pasar diperkirakan akan lebih selektif dalam mengambil posisi, dengan fokus pada strategi akumulasi bertahap dan pengelolaan risiko jangka pendek. []
Penulis: Dian Puspita | Penyunting: Redaksi01
