Emas Pegadaian Meroket Saat Harga Dunia Melemah, Ini Penyebabnya

JAKARTA – Harga emas di Pegadaian kompak naik pada perdagangan Rabu (20/05/2026), dengan tiga produk utama yakni UBS, Antam, dan Galeri24 mencatat kenaikan per gram di tengah tekanan pelemahan harga emas dunia akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga global.

Berdasarkan pembaruan harga, emas UBS naik menjadi Rp2.845.000 per gram, emas Antam menjadi Rp2.887.000 per gram, dan Galeri24 mencapai Rp2.782.000 per gram. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, Selasa (19/05/2026), ketika UBS dipatok Rp2.788.000, Antam Rp2.861.000, dan Galeri24 Rp2.756.000 per gram.

Produk emas Galeri24 tersedia dalam ukuran 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram, sementara UBS dijual mulai 0,5 gram sampai 500 gram. Adapun emas Antam di Sahabat Pegadaian ditampilkan untuk ukuran 0,5 gram hingga 100 gram.

Di tengah kenaikan harga emas domestik, harga emas dunia justru tertekan dalam perdagangan global. Harga emas spot turun 2 persen ke level 4.474,40 dolar Amerika Serikat (AS) per ons, sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 1,8 persen menjadi 4.476,80 dolar AS.

Analis dari Marex Edward Meir menjelaskan pelemahan harga emas dipengaruhi oleh tren kenaikan suku bunga riil di berbagai negara serta penguatan dolar AS.

“Kita sedang melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di seluruh dunia, dan hal itulah yang paling membebani emas saat ini. Dolar AS yang semakin kuat juga memberikan dampak negatif,” ujar Edward Meir, sebagaimana dilansir Antara, Rabu, (20/05/2026).

Kondisi tersebut diperkuat oleh tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Situasi ini meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Ole Hansen menilai prospek jangka pendek emas masih menghadapi tantangan dari tekanan makroekonomi, terutama akibat sektor energi dan kebijakan moneter ketat Bank Sentral AS (The Fed).

“Meskipun alasan struktural untuk berinvestasi pada emas sebagian besar tetap utuh, perkembangan makroekonomi jangka pendek telah menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi pergerakan harga,” tulis Ole Hansen.

“Begitu tekanan langsung terkait sektor energi mulai mereda, permintaan dari bank sentral mungkin akan muncul kembali sebagai penggerak utama pasar,” tambahnya.

Selain emas, logam mulia lain juga mengalami tekanan. Harga perak turun 5,7 persen menjadi 73,25 dolar AS per ons, platinum melemah 2,8 persen ke 1.923,55 dolar AS per ons, dan palladium terkoreksi 3,3 persen ke 1.371,25 dolar AS per ons.

Pergerakan berlawanan antara harga emas Pegadaian dan pasar global menunjukkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi faktor eksternal, terutama kebijakan suku bunga, inflasi, dan pergerakan dolar AS yang terus menjadi perhatian investor. []

Penulis: Septian Deny | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *