Cuma Modal Kios Kosong, Usaha Ceker Ini Meledak Berkat TikTok
SURABAYA – Pemanfaatan ruang usaha yang semula hanya digunakan pada pagi hari menjadi titik awal berkembangnya Ceker Pedas Jawa Tulen hingga mampu melayani ratusan pesanan dalam waktu singkat. Pemiliknya, Adam Jaya Ramadhan, memanfaatkan media sosial sebagai strategi untuk memperluas pasar setelah sebelumnya hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung.
Kisah tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana digitalisasi pemasaran dapat mengubah skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tanpa harus diawali dengan modal tempat usaha yang besar. Adam memulai bisnis kulinernya dengan memanfaatkan kios milik ibunya yang tidak digunakan pada malam hari.
Usaha itu dirintis setelah Adam berhenti bekerja di tempat sebelumnya. Dukungan keluarga dan orang terdekat kemudian menjadi bagian penting dalam proses awal pengembangan bisnis, mulai dari resep hingga pemasaran.
“Awal mulanya membuka Ceker Pedas Jawa Tulen itu emang niatnya setelah bekerja buat usaha sendiri. Terus dan bersyukurnya itu disupport dari orang-orang terdekat seperti mamaku sebagai yang punya resep, sebagai yang ngajarin aku untuk masaknya. Setelah itu ada pacarku, dia ngesupport dari segi marketing, dari branding,” kata Adam Jaya Ramadhan dalam Dialog UMKM Pro 4 RRI Surabaya.
Pada tahap awal, aktivitas penjualan masih terbatas. Kios yang digunakan merupakan tempat berjualan jajanan pasar milik ibunya yang beroperasi pada pagi hari. Adam kemudian memanfaatkannya pada malam hari sehingga tidak perlu menyediakan tempat baru untuk memulai usahanya.
Kondisi tersebut membuat jangkauan pasar awal Ceker Pedas Jawa Tulen masih bergantung pada konsumen yang datang secara langsung. Penjualan bahkan hanya sekitar 10 porsi per hari sebelum strategi promosi melalui media sosial diterapkan secara lebih serius.
Perubahan terjadi ketika Adam mulai memanfaatkan TikTok sebagai kanal pemasaran. Konten yang dibuat untuk memperkenalkan produk memperoleh ratusan ribu tayangan dan kemudian mendorong peningkatan permintaan secara drastis.
Lonjakan tersebut membuat kapasitas penjualan yang sebelumnya hanya sekitar 10 porsi per hari meningkat menjadi ratusan porsi dalam waktu sekitar dua jam. Fenomena itu sekaligus mendorong Adam memperluas kapasitas usahanya dengan membuka cabang kedua.
“Setelah pacarku bantu buatin TikTok dan lain-lain, alhamdulillah setelah itu ramai banget sampai overload orderannya, sampai aku enggak bisa ngatasi. Dan sekarang udah buka cabang kedua di Jalan Kartini Nomor 121D, itu lebih besar. Udah ada tempat dine-in-nya, parkirnya luas. Kalau sebelumnya kan enggak ada tempat dine-in-nya ya, jadi sistemnya itu takeaway semua,” tutur Adam sebagaimana diberitakan RRI, Minggu, (13/09/2026).
Cabang kedua di Jalan Kartini Nomor 121D memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan lokasi awal. Selain menyediakan area untuk makan di tempat, lokasi tersebut juga dilengkapi area parkir yang lebih luas sehingga memberikan ruang bagi Adam untuk mengakomodasi peningkatan jumlah pelanggan.
Di sisi produk, nama Ceker Pedas Jawa Tulen dipilih berdasarkan pengalaman Adam ketika masih bekerja di Bali. Ia melihat penggunaan kata “Tulen” pada brand kuliner yang menggunakan identitas daerah sehingga mendapatkan inspirasi untuk menerapkannya pada usahanya.
Sebelum menentukan nama tersebut, Adam sempat mempertimbangkan sejumlah nama yang berkaitan dengan lokasi, seperti Ceker Pedas Perempatan dan Ceker Pedas Njarak. Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Ceker Pedas Jawa Tulen karena dinilai lebih mencerminkan karakter makanan yang ditawarkan.
Produk tersebut mengandalkan racikan bumbu merah dengan harga Rp15.000 per porsi. Cita rasanya memadukan sensasi gurih, manis, dan bumbu yang kuat untuk menyasar selera konsumen yang menyukai karakter masakan Jawa.
Perjalanan usaha Adam menunjukkan bahwa pemanfaatan aset sederhana yang disertai strategi pemasaran digital dapat membuka peluang pertumbuhan bagi UMKM. Dari kios yang sebelumnya tidak digunakan pada malam hari, usaha tersebut berkembang hingga memiliki cabang dengan fasilitas makan di tempat dan kapasitas pelayanan yang lebih besar. []
Redaksi01
