Donggi Senoro Targetkan Produksi LNG 2,1 Juta Ton per Tahun

BANGGAI – PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) menargetkan produksi Liquefied Natural Gas (LNG) sebesar 2,1 juta ton per tahun dari satu train pengolahan. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 40 kargo LNG dan menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keandalan operasi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Operations Trainer PT DSLNG Bath Sius Paul Ruitan mengatakan fasilitas LNG yang berada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, memiliki luas sekitar 318 hektare dengan satu train berkapasitas 2,1 juta ton LNG per tahun.

“Jadi, kita ada kurang lebih 318 hektar dengan satu train, kapasitas 2,1 juta ton per tahun atau ekuivalen dengan 40 kargo,” ucap Paul saat diwawancarai di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (17/08/2026), sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (18/08/2026).

Setiap kargo yang diangkut dari fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 125.000 meter kubik LNG. Dengan kapasitas produksi yang tersedia, DSLNG juga menghadapi tantangan untuk menjaga kesinambungan pasokan, terutama ketika kebutuhan gas dalam negeri semakin meningkat.

Dari sisi operasional, Paul menyebut kinerja fasilitas DSLNG sepanjang 2025 menunjukkan tingkat ketersediaan atau keandalan mencapai 98,99 persen. Angka tersebut, menurut dia, berada di atas rata-rata global untuk fasilitas LNG.

“Globalnya itu 95,18 persen. Kemudian, untuk efisiensi kita ada di 90,36 persen, jauh di atas rekan-rekan (perusahaan LNG) kita di Indonesia,” sambung Paul.

Tingkat keandalan tersebut menjadi salah satu modal perusahaan dalam menjaga kapasitas produksi. Di tengah meningkatnya kebutuhan LNG, optimalisasi fasilitas pengolahan menjadi penting agar pasokan dapat tetap berjalan untuk pembeli jangka panjang sekaligus mendukung kebutuhan energi dalam negeri.

Plant Deputy General Manager PT DSLNG Sugianto Darsani mengatakan kebutuhan gas domestik hingga 2023 masih banyak dipenuhi dari sumur-sumur kecil yang gasnya langsung dialirkan melalui jaringan pipa.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah pada 2024 ketika pasokan dari sumber-sumber tersebut mengalami penurunan. Perubahan itu turut berdampak terhadap kebutuhan pasokan LNG untuk pasar domestik.

“Mulai 2024 itu sudah mulai turun secara bersama, tetapi di 2024 PT Pertamina Gas Negara (PGN) hanya mengambil satu kargo,” ucap Sugianto.

Pada 2025, DSLNG kemudian memasok delapan kargo kepada PGN. Kebutuhan tersebut berpotensi meningkat seiring kebijakan pemerintah yang mendorong pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri melalui produksi LNG domestik.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi DSLNG karena perusahaan juga memiliki pembeli LNG jangka panjang. Penyesuaian pasokan domestik harus dilakukan dengan mempertimbangkan komitmen penjualan yang telah berjalan.

“Oleh karena itu kebutuhan dalam negeri itu digotong-royong antara PT Badak, PT BP Tangguh, sama DSLNG. Nanti dari kapasitas produksi itu bisa ditentukan, kalau dari DS delapan (kargo), tahun ini dari DS 15 (kargo),” sambung dia.

Sugianto menilai peluang permintaan LNG masih terbuka, termasuk dari negara-negara maju yang semakin banyak memanfaatkan gas alam cair sebagai bagian dari kebutuhan energi mereka. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi industri LNG Indonesia, tetapi sekaligus menuntut pengelolaan pasokan yang lebih cermat agar kebutuhan domestik tetap terpenuhi.

“Jaringan gas yang paling efisien adalah LNG dan lebih murah, nilai kalornya memang lebih rendah dari elpiji tetapi ya efektifnya,” tutur dia.

Dengan kapasitas produksi 2,1 juta ton per tahun dan tingkat keandalan operasi yang tinggi, DSLNG memiliki peran dalam menjaga kesinambungan pasokan LNG. Pada saat yang sama, pembagian pasokan antara kebutuhan domestik dan pembeli jangka panjang menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan operasional industri LNG nasional. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *