Harga Emas Merosot 1,5 Persen, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah
TOKYO – Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/Fed) menjadi faktor utama yang menekan harga emas dunia pada perdagangan Senin (13/07/2026). Perubahan proyeksi pasar tersebut dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan memperbesar risiko inflasi global.
Pada perdagangan hingga pukul 13.00 WIB, harga emas di pasar spot turun 1,5 persen menjadi 4.060,36 dolar Amerika Serikat (AS) per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus melemah 1,1 persen ke level 4.068,3 dolar AS per ons troi.
Perubahan sentimen pasar terjadi setelah pasukan AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone). Di saat yang sama, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu lintasan utama distribusi minyak dunia.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak melonjak sekitar empat persen. Di sisi lain, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) menguat, sedangkan mayoritas bursa saham Asia bergerak melemah.
Kepala Pasar Institusional Global ABC Refinery Nicholas Frappell menilai gejolak di kawasan Teluk selalu memberikan tekanan terhadap pergerakan harga emas, meskipun arah selanjutnya masih bergantung pada dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian global.
“Setiap pecahnya kekerasan di Teluk disertai dengan tekanan terhadap emas,” kata Nicholas Frappell.
“Pertanyaannya adalah, jika Selat Hormuz tetap ditutup secara efektif atau sebagian tertutup, apakah hal itu mengarah pada efek deflasi, yang mungkin akan mendukung emas jika terjadi kehancuran permintaan yang menyebabkan aktivitas ekonomi lebih rendah,” tambah Frappell, sebagaimana dilansir Kontan, Senin (13/07/2026).
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah agenda ekonomi AS yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan moneter Fed. Agenda tersebut meliputi kesaksian Ketua Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres, rilis data Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), serta data penjualan ritel.
Selain itu, pernyataan para pejabat Fed, termasuk Wakil Ketua Michelle Bowman dan Gubernur Christopher Waller, juga diperkirakan menjadi perhatian investor untuk memperoleh sinyal terbaru mengenai prospek suku bunga di tengah meningkatnya tekanan inflasi.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga Fed pada September kini diperkirakan mencapai 72 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 63 persen pada pekan sebelumnya, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Di pasar berjangka, data menunjukkan spekulan di bursa Commodity Exchange (COMEX) mengurangi posisi beli bersih emas sebanyak 1.964 kontrak menjadi 114.854 kontrak pada pekan yang berakhir 7 Juli 2026. Langkah tersebut mengakhiri tren peningkatan posisi beli yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.
Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot turun 2,6 persen menjadi 58,29 dolar AS per ons troi. Sementara itu, platinum melemah 1,6 persen menjadi 1.601,92 dolar AS per ons troi dan paladium terkoreksi dua persen ke level 1.251,42 dolar AS per ons troi. []
Redaksi01
