Harga Minyak Dunia Melonjak, Konflik Laut Merah Picu Kekhawatiran Pasokan
JAKARTA – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (23/07/2026) pagi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Laut Merah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) maupun memperkuat prospek kenaikan harga minyak Brent.
Pada pukul 07.28 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat sebesar 88,12 dolar Amerika Serikat (AS) per barel atau naik 1,49 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di level 86,83 dolar AS per barel.
Penguatan harga terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah menggunakan rudal dan drone. Kelompok tersebut menyebut serangan dilakukan karena kedua kapal dianggap melanggar blokade yang mereka tetapkan.
Insiden tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi minyak dunia. Beberapa saat sebelum pernyataan Houthi dirilis, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terkena proyektil di barat daya Al Shuqaiq, pesisir Laut Merah Arab Saudi, yang mengakibatkan kebakaran di atas kapal.
Analis menilai meningkatnya eskalasi konflik berpotensi memperketat pasokan minyak global apabila jalur pelayaran di Laut Merah mengalami gangguan berkepanjangan.
“Jika jalur ini terganggu, ketatnya pasar minyak akan semakin memburuk,” ujar Ahli Strategi Komoditas Senior ANZ Group Holding Ltd Daniel Hynes, sebagaimana dilansir Kontan, Kamis (23/07/2026).
Kenaikan harga minyak juga didukung ekspektasi pasar bahwa konflik di Timur Tengah masih akan berlanjut. Harga minyak Brent bahkan dilaporkan telah melonjak hampir 30 persen sepanjang bulan ini.
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus level 100 dolar AS per barel hingga akhir 2026 apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan mengganggu rantai pasok energi dunia. []
Redaksi01
