IHSG Menguat Sepekan, Analis Ingatkan Risiko Koreksi

0
1086413380

JAKARTA – Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,90 persen dalam sepekan belum cukup untuk memastikan tren pasar saham Indonesia berbalik menguat. Menjelang perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, investor akan mencermati kemampuan indeks menembus level 5.500 di tengah tekanan harga minyak, ketidakpastian global, dan agenda reformasi pasar modal.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), IHSG menguat 0,95 persen ke posisi 5.439,26. Meski mencatat kenaikan mingguan yang cukup kuat, sejumlah analis menilai pergerakan tersebut masih perlu dikonfirmasi oleh momentum teknikal dan perkembangan sentimen pasar.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan indeks masih bertahan di atas level psikologis 5.400. Namun, indikator teknikal belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang meyakinkan.

“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level psikologis 5.400. “Support terdekat berada di 5.400-5.366, sedangkan resistance di 5.500-5.540,” ujar Reza kepada Kontan, Jumat (23/10/2026), sebagaimana diberitakan Kontan, Sabtu, (24/10/2026).

Reza menjelaskan, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif, meskipun tekanan histogram mulai mereda. Artinya, penguatan indeks belum cukup untuk memastikan tren penurunan berakhir.

Jika IHSG mampu menembus 5.500 disertai momentum yang menguat, peluang kenaikan lanjutan terbuka menuju area resistansi berikutnya. Sebaliknya, penurunan di bawah 5.366 berpotensi meningkatkan risiko koreksi.

Praktisi pasar modal sekaligus pendiri WH-Project, William Hartanto, juga menilai penguatan IHSG belum menandakan pembalikan tren atau reversal. Ia memperkirakan indeks bergerak dalam rentang 5.400–5.500 pada pekan mendatang, dengan level 5.500 menjadi area penting yang akan diuji pasar.

Di luar faktor teknikal, pelaku pasar juga menghadapi tekanan dari pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$114,39 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Perhatian investor berikutnya tertuju pada keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2026. Konsensus memperkirakan suku bunga bertahan di level 4,00 persen, sementara konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell akan menjadi salah satu sumber perhatian pasar.

Arah kebijakan moneter Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, nilai tukar rupiah, serta arus modal asing ke pasar domestik. Karena itu, keputusan The Fed berpotensi memengaruhi selera risiko investor terhadap saham Indonesia.

Pasar juga akan mencermati tindak lanjut reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Selain itu, laporan keuangan emiten kuartal III akan menjadi bahan evaluasi untuk menilai ketahanan kinerja perusahaan di tengah gejolak pasar.

Dari sisi sektoral, William menilai saham pertambangan menarik untuk dicermati karena sektor tersebut memiliki siklus pada akhir tahun. Ia juga merekomendasikan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga 10.000 dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target Rp615.

Dengan berbagai faktor tersebut, kenaikan IHSG sepanjang pekan menjadi sinyal pemulihan, tetapi belum menghilangkan risiko penurunan. Investor perlu memperhatikan pergerakan indeks di sekitar level dukungan dan resistansi serta menimbang perkembangan ekonomi global dan kinerja emiten sebelum mengambil keputusan investasi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *