IHSG Tertekan, Turun 55 Poin di Sesi I Perdagangan Selasa
JAKARTA – Tekanan jual membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,87 persen pada perdagangan sesi I, Selasa (11/08/2026), meski sejumlah bursa utama Asia justru bergerak menguat. Berdasarkan data Stockbit, IHSG terkoreksi 55,47 poin ke level 6.309,91 hingga penutupan perdagangan sesi I.
Pelemahan IHSG berlangsung di tengah aktivitas transaksi yang cukup tinggi. Nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp7,84 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,91 miliar lembar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi mencapai 1,23 juta kali.
Pergerakan pasar domestik juga menunjukkan adanya perbedaan kinerja yang cukup lebar antar-emiten. Beberapa saham mencatat kenaikan signifikan, tetapi tekanan pada sejumlah saham lainnya ikut menyeret indeks ke zona merah.
Saham STAR milik Calculus Global Ventures menjadi pencetak kenaikan tertinggi dengan penguatan 24,7 persen atau 82 poin ke level 414. Saham Yanaprima Hastapersada (YPAS) menyusul dengan kenaikan 21,26 persen atau 135 poin ke level 770.
Penguatan berikutnya terjadi pada saham Duta Anggada Realty (DART) sebesar 20,71 persen atau 29 poin menjadi 169. Saham Fast Food Indonesia (FAST) naik 17,03 persen atau 62 poin ke level 426, sedangkan Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE) menguat 16 persen atau delapan poin menjadi 58.
Di sisi berlawanan, saham Sumi Indo Kabel (IKBI) menjadi pemberat dengan penurunan 14,94 persen atau 115 poin ke level 655. Saham Bersama Mencapai Puncak (BAIK) turun 14,5 persen atau 95 poin menjadi 560.
Saham SLJ Global (SULI) juga melemah 11,3 persen atau 13 poin ke level 102. Selanjutnya, Tunas Alfin (TALF) terkoreksi 10,1 persen atau 100 poin menjadi 890, sedangkan saham Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFI) turun 9,86 persen atau tujuh poin ke level 64.
Dari sisi nilai transaksi, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi saham dengan nilai perdagangan terbesar, yakni Rp439,83 miliar. Chandra Asri Pacific (TPIA) berada di posisi berikutnya dengan nilai transaksi Rp389,05 miliar, disusul Bumi Resources (BUMI) Rp345,24 miliar.
Bank Central Asia (BBCA) mencatat nilai transaksi Rp330,85 miliar, sementara Bank Rakyat Indonesia (Persero) (BBRI) membukukan transaksi Rp268,26 miliar.
Untuk volume perdagangan, Garuda Indonesia (Persero) (GIAA) menjadi saham dengan aktivitas tertinggi, mencapai 24,69 juta lembar. BUMI berada di posisi kedua dengan volume 18,86 juta lembar, kemudian GMFI sebanyak 12,28 juta lembar.
Bakrie & Brothers (BNBR) tercatat diperdagangkan sebanyak 8,67 juta lembar, sedangkan Graha Andrasentra Propertindo (JGLE) mencapai 8,48 juta lembar.
Kinerja IHSG tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah bursa Asia. Berdasarkan data Stockbit dan Yahoo Finance sebagaimana diberitakan Kumparan, Selasa (11/08/2026), indeks Nikkei 225 Jepang menguat 2,07 persen ke 66.970,22.
Indeks Straits Times Singapura juga bergerak positif dengan kenaikan 0,82 persen menjadi 5.745,11. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,75 persen ke 25.742,92, sedangkan SSE Composite China melemah tipis 0,05 persen ke 3.964,79.
Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada pasar saham Indonesia pada sesi I tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi bursa kawasan secara keseluruhan. Investor masih mencermati pergerakan masing-masing saham, tercermin dari tingginya volume dan nilai transaksi di tengah pelemahan IHSG. []
Redaksi01
