IHSG Zona Hijau, Sektor Perbankan dan Energi Bersinar
JAKARTA – Aliran dana asing yang terus masuk ke pasar saham domestik mendorong optimisme pelaku pasar terhadap penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (13/05/2026). Indeks diproyeksikan bergerak menuju level psikologis 8.100 didukung sentimen positif global, stabilitas ekonomi nasional, serta ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI).
IHSG sebelumnya ditutup menguat hingga menyentuh level 8.088 setelah investor asing membukukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp657 miliar di pasar reguler. Penguatan tersebut turut dipicu optimisme terhadap laporan keuangan emiten perbankan besar yang diperkirakan mencatat pertumbuhan laba positif pada kuartal I 2026.
Secara teknikal, pergerakan IHSG dinilai masih berada dalam fase konsolidasi sehat dengan peluang menguji level resistensi di area 8.120. Investor juga diminta mencermati volume transaksi untuk memastikan keberlanjutan tren penguatan, khususnya pada saham-saham blue chip yang menjadi penopang utama indeks.
“Stabilitas makroekonomi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik tahun ini,” ujar analis senior Mirae Asset Sekuritas, sebagaimana diberitakan Info Bansos, Selasa, (12/05/2026).
Sektor perbankan diperkirakan masih menjadi penggerak utama perdagangan. Saham PT Bank Mandiri Tbk dengan kode BMRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp7.500 per saham, terutama menjelang periode distribusi dividen yang menjadi perhatian investor.
Selain sektor perbankan, saham energi juga dinilai memiliki prospek menarik di tengah stabilnya harga komoditas global. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diproyeksikan tetap kuat untuk investasi jangka menengah karena prospek dividen tinggi, sementara PT Elnusa Tbk (ELSA) dipandang berpotensi menguat seiring peningkatan kontrak jasa minyak dan gas bumi.
Di sektor konsumer, PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) turut diprediksi mengalami penguatan sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Pelaku pasar juga mulai mencermati peluang hilirisasi sektor batu bara melalui proyek dimethyl ether (DME) yang dinilai dapat meningkatkan nilai tambah emiten tambang.
Ekspektasi penurunan suku bunga BI sebesar 25 basis poin ke level 4,5 persen menjadi sentimen tambahan bagi pasar modal. Kebijakan tersebut dipandang dapat menekan biaya pinjaman perusahaan dan meningkatkan daya tarik investasi saham dibandingkan instrumen berbasis bunga.
Sementara itu, suku bunga bank sentral Amerika Serikat masih berada di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Kondisi tersebut memberi ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik tanpa tekanan besar dari eksternal.
Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memantau dinamika perdagangan agar pasar berjalan teratur, wajar, dan efisien. Hingga penutupan sesi pertama perdagangan, IHSG tercatat masih bergerak di zona hijau dengan volume transaksi yang relatif stabil.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data neraca perdagangan Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir pekan ini sebagai indikator tambahan untuk membaca arah pergerakan pasar selanjutnya. []
Penulis: Intan Permatasari | Penyunting: Redaksi01
