Impor Barang Modal Melonjak 12,14 Persen, Industri Manufaktur RI Menguat
JAKARTA – Kebutuhan industri nasional terhadap mesin, peralatan produksi, serta bahan pendukung manufaktur mendorong peningkatan impor Indonesia sepanjang September 2026. Nilai impor mencapai 24,23 miliar dolar Amerika Serikat (AS), tumbuh 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 dan meningkat 18,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan dalam negeri mulai menguat. Kenaikan impor terutama ditopang barang modal dan bahan baku serta barang penolong yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dan memenuhi pesanan industri.
“Hal ini membuktikan bahwa impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri,” kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Rabu (04/11/2026).
Dari seluruh kelompok barang impor, barang modal mencatatkan pertumbuhan bulanan tertinggi sebesar 12,14 persen. Berikutnya, impor barang konsumsi meningkat 6,40 persen, sedangkan bahan baku dan barang penolong tumbuh 3,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penguatan aktivitas impor tersebut sejalan dengan perkembangan industri manufaktur nasional. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Tren peningkatan juga terlihat dalam akumulasi perdagangan selama sembilan bulan pertama 2026. Total impor Indonesia pada Januari-September mencapai 210,63 miliar dolar AS, meningkat 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 176,01 miliar dolar AS.
Budi menjelaskan, seluruh kelompok barang impor mengalami pertumbuhan positif selama periode tersebut. Bahan baku dan barang penolong mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 21,11 persen, disusul barang modal sebesar 16,49 persen dan barang konsumsi sebesar 15,54 persen.
Dari sisi komoditas nonminyak dan gas bumi (nonmigas), peningkatan impor terbesar selama Januari-September 2026 terjadi pada kendaraan udara beserta bagiannya yang melonjak 241,60 persen. Impor garam, belerang, batu, dan semen juga meningkat 127,03 persen, sementara bijih logam, terak, dan abu tumbuh 51,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, China, Jepang, dan Australia masih menjadi tiga negara pemasok utama barang impor nonmigas Indonesia. Ketiganya menyumbang 52,94 persen dari total impor nonmigas dengan nilai gabungan mencapai 94,27 miliar dolar AS.
Di luar tiga negara pemasok utama tersebut, Prancis mencatatkan pertumbuhan impor terbesar sebesar 122,95 persen. Rusia menyusul dengan kenaikan 54,78 persen, sedangkan Argentina tumbuh 52,09 persen secara kumulatif selama Januari-September 2026.
Sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (04/11/2026), perkembangan impor tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan industri terhadap pasokan barang modal dan bahan produksi dari luar negeri. Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan pasokan bahan baku dan memperkuat kapasitas industri pengolahan dalam negeri agar pertumbuhan manufaktur dapat berlangsung secara berkelanjutan. []
Redaksi01
