JCFF 2026 Ditutup, BI Perkuat Hilirisasi Komoditas Lokal Menuju Pasar Global
SURABAYA – Java Coffee & Flavors Festival (JCFF) 2026 resmi ditutup di Alun-Alun Surabaya, Minggu (19/07/2026) malam, dengan penegasan bahwa penguatan hilirisasi, digitalisasi, dan kolaborasi menjadi langkah utama untuk meningkatkan daya saing komoditas kopi, teh, kakao, serta rempah-rempah Indonesia di pasar internasional. Penutupan festival turut dihadiri Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa sebagai bentuk dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berorientasi ekspor.
Mengusung tema From Local Flavor to Global Horizon, penyelenggaraan JCFF yang memasuki tahun kelima mempertemukan pemerintah, Bank Indonesia (BI), perbankan, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem agroindustri nasional.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan JCFF telah berkembang menjadi platform strategis yang tidak hanya mempromosikan produk unggulan Indonesia, tetapi juga memperkuat rantai industri dari sektor hulu hingga hilir.
Menurut Filianingsih, terdapat tiga tujuan utama penyelenggaraan festival tersebut, yakni memperkenalkan nilai dan filosofi kopi serta rempah Indonesia kepada masyarakat, mendorong pengembangan industri kopi nasional dari hulu hingga hilir, serta membangun ekosistem yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM.
Ia menambahkan, tema From Local Flavor to Global Horizon mencerminkan upaya BI mendorong produk lokal agar mampu bersaing di pasar global melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan penguatan jejaring bisnis. Potensi besar Pulau Jawa sebagai sentra produksi kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah juga dinilai perlu didukung dengan proses hilirisasi agar menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Selain penguatan sektor riil, BI terus memperluas digitalisasi transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Sistem pembayaran tersebut kini telah mendukung transaksi lintas negara di sejumlah negara mitra sehingga memudahkan masyarakat Indonesia bertransaksi di luar negeri menggunakan telepon seluler.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim Ibrahim menegaskan berakhirnya festival bukan berarti berhentinya upaya membangun daya saing UMKM nasional.
“Hari ini yang berakhir hanyalah seremoni. Semangat untuk membangun UMKM dan membawa produk Indonesia ke pasar dunia harus terus berlanjut,” ujar Ibrahim, sebagaimana diwartakan Jatim Newsroom, Minggu (19/07/2026).
Ibrahim menjelaskan JCFF mengalami perkembangan signifikan sejak pertama kali digelar pada 2022. Festival yang awalnya hanya berfokus pada promosi kopi kini berkembang menjadi wadah penguatan ekosistem berbagai komoditas unggulan, seperti teh, kakao, cokelat, dan rempah-rempah.
Menurutnya, transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi BI dalam meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan melalui peningkatan kualitas produk, inovasi, hilirisasi, hingga perluasan akses pasar.
“JCFF bukan sekadar festival, tetapi wadah kolaborasi untuk meningkatkan daya saing UMKM dan membawa komoditas unggulan Jawa Timur menembus pasar global. Berakhirnya festival ini menjadi awal dari semangat untuk terus mengangkat produk lokal ke panggung dunia,” tegasnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, JCFF 2026 menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari business matching pembiayaan bersama perbankan, workshop, talkshow, edukasi sensory mapping, pelatihan strategi pemasaran kopi, hingga home brewing. Festival juga dimeriahkan sejumlah kompetisi, seperti Latte Art Competition, AeroPress Championship, Cupping Test, dan Flavor Innovation Challenge, yang melibatkan pelaku industri serta komunitas kopi dari berbagai daerah.
Melalui penyelenggaraan JCFF 2026, BI bersama para pemangku kepentingan berharap ekosistem kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah Indonesia semakin kuat, mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM, sekaligus memperluas daya saing produk lokal di pasar internasional. []
Redaksi01
