Ketegangan Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Dunia Turun
HOUSTON – Penurunan harga minyak dunia berlanjut pada perdagangan Asia, Rabu (06/05/2026), seiring meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang menekan premi risiko, meskipun penurunan tajam persediaan minyak Amerika Serikat (AS) masih menahan pelemahan lebih dalam.
Berdasarkan data pasar, harga kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 1,2 persen menjadi 108,60 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,4 persen ke level 100,88 dolar AS per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya juga telah ditutup merosot lebih dari empat persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pelemahan harga terjadi di tengah sinyal meredanya konflik di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi global. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan penghentian sementara operasi pengamanan pelayaran komersial yang sebelumnya meningkatkan ketegangan dengan Iran.
“Kami telah sepakat bersama bahwa, meskipun blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat, untuk melihat apakah perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, sebagaimana dilansir Investing, Rabu (06/05/2026).
Keputusan tersebut memicu optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya solusi diplomatik antara Washington dan Teheran, setelah sebelumnya inisiatif Project Freedom memicu eskalasi militer yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi.
Di sisi lain, tekanan penurunan harga minyak tertahan oleh faktor fundamental dari AS. Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah turun signifikan sebesar 8,1 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh melampaui perkiraan pasar.
Penurunan stok ini mencerminkan permintaan yang tetap kuat di tengah pasokan yang terbatas, sehingga memberikan bantalan terhadap harga minyak global meskipun risiko geopolitik mulai mereda. Kondisi tersebut menunjukkan pasar energi masih berada dalam tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan faktor fundamental pasokan-permintaan. []
Penulis: Husen Miftahudin | Penyunting: Redaksi01
