Mahyunadi Ingatkan Hari Jadi Desa Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan hari jadi ke-29 Desa Citra Manunggal Jaya menjadi momentum mengevaluasi pekerjaan pembangunan yang belum tuntas dan merumuskan prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ADVERTORIAL – Pekerjaan pembangunan yang belum tuntas di Desa Citra Manunggal Jaya, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menjadi perhatian Wakil Bupati (Wabup) Kutim Mahyunadi. Ia meminta pemerintah desa dan masyarakat menjadikan peringatan hari jadi ke-29 sebagai momentum mengevaluasi capaian pembangunan sekaligus menetapkan prioritas berdasarkan kebutuhan warga dan kemampuan anggaran.
Pesan tersebut disampaikan Mahyunadi saat menghadiri peringatan hari jadi desa di lapangan Desa Citra Manunggal Jaya, Minggu (25/10/2026). Ia menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memiliki arah yang jelas untuk lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Mahyunadi menilai, bertambahnya usia desa seharusnya diikuti peningkatan kualitas pembangunan, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah desa perlu mengidentifikasi program yang telah berhasil, kegiatan yang belum mencapai sasaran, serta persoalan yang masih membutuhkan penyelesaian.
“Jangan hanya menjadi seremonial. Hari jadi ini harus menjadi introspeksi bagi kita. Sudah sampai di mana? Apa yang sudah berhasil, apa yang kurang berhasil, dan yang lebih penting, lima atau sepuluh tahun ke depan Citra Manunggal Jaya akan menjadi desa seperti apa?” katanya.
Menurut Mahyunadi, masih adanya pekerjaan pembangunan yang belum terselesaikan menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan program. Pemerintah desa dan masyarakat diharapkan mampu menentukan kebutuhan yang paling mendesak agar penggunaan anggaran memberikan manfaat nyata.
Ia mengingatkan bahwa perencanaan pembangunan harus mempertimbangkan kemampuan keuangan yang tersedia. Dengan demikian, penetapan prioritas menjadi penting agar program pembangunan dapat dilaksanakan secara bertahap dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, Mahyunadi menegaskan bahwa penyusunan arah pembangunan desa tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan masyarakat yang merintis permukiman tersebut sejak masa transmigrasi.
Ia menyebut kemajuan Desa Citra Manunggal Jaya merupakan hasil pengorbanan para pendahulu, kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga yang secara bergantian melanjutkan pembangunan.
“Usia 29 tahun itu bukan waktu yang singkat. Desa ini tidak tiba-tiba menjadi seperti yang kita lihat sekarang. Pasti ada keringat para pendahulu, bagaimana dulu masih transmigrasi, bagaimana para pejuang desa membangun tapak-tapak perjuangan hingga bisa seperti sekarang,” ujar Mahyunadi.
Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim itu menyampaikan penghargaan kepada para pendiri desa yang telah meletakkan dasar kehidupan masyarakat melalui kerja keras dan semangat gotong royong.
Menurutnya, sejarah tersebut perlu diwariskan kepada generasi penerus sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak berlangsung secara instan, melainkan membutuhkan pengabdian, kebersamaan, dan kesinambungan antargenerasi.
Namun, penghargaan terhadap perjuangan masa lalu juga harus diwujudkan melalui upaya memperbaiki kekurangan yang masih dihadapi masyarakat saat ini. Keberhasilan pembangunan sebelumnya diharapkan menjadi landasan untuk merumuskan program yang lebih terarah.
Mahyunadi berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat dapat memperkuat komitmen bersama dalam menentukan prioritas pembangunan ke depan.
Dengan perencanaan yang lebih terukur dan melibatkan masyarakat, Desa Citra Manunggal Jaya diharapkan mampu memperkuat perekonomian, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mempercepat penyelesaian kebutuhan pembangunan yang belum terpenuhi. []
Penulis: Suryono | Penyunting: Aulia Setyaningrum
