Pemkot Tanjungpinang Siapkan 10 Produk UMKM Tembus Pasar Nasional dengan AI

TANJUNGPINANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungpinang menargetkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu menembus pasar nasional melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI). Sebagai langkah awal, Pemkot Tanjungpinang menyiapkan 10 produk unggulan yang akan diluncurkan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, sekaligus menjajaki kerja sama dengan jaringan ritel modern untuk memperluas akses pemasaran.

Strategi tersebut disampaikan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah saat membuka pelatihan AIM ASEAN AI bertema “Meningkatkan Kapasitas dan Daya Saing UMKM Tanjungpinang Melalui Adopsi Teknologi AI” di Aula Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Rabu (05/08/2026). Kegiatan yang dibuka Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Komite IV Daerah Pemilihan (Dapil) Kepulauan Riau (Kepri) Dwi Ajeng Sekar Respaty itu menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi digital UMKM, sebagaimana diberitakan Tanjungpinang  Kota, Rabu (05/08/2026).

Lis Darmansyah menegaskan perkembangan teknologi tidak dapat dihindari sehingga pelaku UMKM harus mampu beradaptasi agar tetap kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Teknologi ini suka tidak suka harus kita ikuti. Pelaku UMKM tidak boleh tertinggal. AI bisa membantu membuat desain produk lebih cepat, sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” ujarnya.

Menurutnya, AI tidak hanya membantu mempercepat pembuatan desain kemasan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun materi promosi, membangun citra produk, hingga meningkatkan produktivitas usaha.

“AI bukan lagi milik perusahaan besar atau negara maju. Sekarang pelaku UMKM, pedagang, nelayan, industri kreatif sampai generasi muda juga bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing,” katanya.

Lis menjelaskan pengembangan UMKM menjadi salah satu strategi penting menjaga perputaran ekonomi daerah di tengah keterbatasan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah.

“Sekitar 89 persen daerah saat ini menghadapi keterbatasan fiskal, bukan hanya Tanjungpinang. Di Kepri, daerah yang pertumbuhan ekonominya relatif baik hanya Batam. Karena itu, kalau kita ingin ekonomi masyarakat tetap bergerak, UMKM harus terus kita kembangkan,” ucapnya.

Selain memperkenalkan teknologi AI, Pemkot Tanjungpinang juga memperluas peluang pemasaran produk lokal melalui penjajakan kerja sama dengan jaringan ritel modern. Menurut Lis, langkah tersebut penting agar produk UMKM tidak hanya bergantung pada pasar lokal maupun regional.

“Kalau hanya dijual di pasar regional, kapan produk kita bisa masuk pasar nasional. Kita harus menyiapkan produk yang mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar,” tuturnya.

Pemkot Tanjungpinang juga akan membantu peningkatan kualitas kemasan produk melalui dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan sehingga harga produk tetap kompetitif.

“Kita akan membantu dari sisi kemasan. Kalau biaya kemasan terlalu tinggi, harga produk ikut mahal dan daya saingnya turun. Ini yang akan kita benahi,” tambahnya.

Lis menyebut sejumlah produk khas daerah, seperti lakse beku, abon gonggong, sambal gonggong, dan aneka olahan otak-otak memiliki peluang besar dipasarkan secara nasional. Namun, pelaku usaha harus mampu menjaga kapasitas produksi agar dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

“Kalau jaringan ritel membutuhkan 3.000 produk setiap bulan, pelaku UMKM harus siap memenuhinya secara konsisten. Pemerintah akan membantu mengidentifikasi pelaku usaha yang produknya sudah memenuhi standar sehingga bisa dipromosikan ke pasar yang lebih luas,” pungkasnya.

Program pengembangan UMKM unggulan akan terus dilanjutkan dengan menambah produk baru pada tahun berikutnya. Produk yang telah memenuhi standar juga akan dipromosikan dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah sebagai bagian dari strategi memperluas pasar.

“Bapak ibu pelaku UMKM terus berkoordinasi dengan Disdagin atau Disnakerkop dan Usaha Mikro agar produk yang telah memenuhi standar dapat difasilitasi masuk ke jaringan pemasaran yang lebih luas,” ujar Lis.

Sementara itu, Dwi Ajeng Sekar Respaty mengatakan sektor UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) tahun 2026, terdapat sekitar 64,2 juta UMKM di Indonesia yang berkontribusi 61,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau 97 persen dari total tenaga kerja nasional, serta menyumbang sekitar 60,4 persen terhadap investasi nasional.

Di Tanjungpinang sendiri terdapat lebih dari 10 ribu pelaku UMKM yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari kuliner, perdagangan, kerajinan, fesyen, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga jasa digital.

Pelatihan AI tersebut merupakan hasil kolaborasi AIM ASEAN, DPD RI, Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro Kota Tanjungpinang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepri, JNE, dan Kumpul Impact. Kegiatan diikuti 400 peserta yang dibagi dalam dua gelombang pada 5 dan 6 Agustus 2026 dengan materi serta pendampingan dari trainer dan fasilitator berpengalaman.

“Kami ingin pemanfaatan AI benar-benar membantu pelaku UMKM meningkatkan produktivitas dan memperluas pasar,” harapnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *