PLN Percepat RUPTL 2025–2034 Lewat Pengadaan Pembangkit Hidro Terintegrasi
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 90
JAKARTA – PT PLN (Persero) mempercepat realisasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dengan menyiapkan pengadaan proyek pembangkit listrik tenaga air secara terintegrasi atau bundling. Melalui skema tersebut, perusahaan menargetkan pengembangan pembangkit hidro berkapasitas total 7.046 megawatt (MW) guna mempercepat proses pengadaan sekaligus mendukung transisi energi nasional.
Langkah tersebut disampaikan Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar dalam Indonesia Hydropower Summit 2026 di Jakarta, Rabu (05/08/2026). Menurutnya, mekanisme pengadaan terpadu disusun untuk mengatasi hambatan pada proses pengadaan proyek pembangkit listrik tenaga air, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (05/08/2026).
“Untuk mempercepat bottleneck di pengadaan, kami merancang pengadaan bundling,” kata Suroso.
Berdasarkan paparan PLN, paket pengadaan bertajuk GIGA ONE Hydro mencakup enam kelompok proyek, yakni Sumatera Peaker berkapasitas 1.071 MW, Sumatera Baseload sebesar 1.800 MW, Kalimantan Peaker 150 MW, Kalimantan Baseload 825 MW, Sulawesi Baseload Tahap I sebesar 1.400 MW, dan Sulawesi Baseload Tahap II sebesar 1.800 MW.
Suroso menjelaskan sekitar 1.000 MW dari paket Sumatera Peaker telah memasuki tahap lelang. Sementara itu, proyek Sumatera Baseload masih berada dalam proses studi kelayakan, sedangkan paket Kalimantan Peaker, Kalimantan Baseload, serta dua proyek Sulawesi Baseload masih dalam tahap finalisasi dokumen lelang.
“Saat ini, sekitar 1.000 MW dari paket Sumatera Peaker telah memasuki proses lelang,” ujarnya.
PLN juga berencana melelang proyek Sumatera Baseload secara bertahap. Tahap awal akan dimulai dengan kapasitas sekitar 350 MW agar pelaksanaan proyek dapat menyesuaikan kesiapan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera-Jawa.
“Sumatera Baseload yang seharusnya 1,8 GW akan kami luncurkan secara parsial, 350 MW terlebih dahulu,” ungkapnya.
Menurut Suroso, strategi pengadaan dalam skala besar mampu meningkatkan efisiensi proyek karena menciptakan skala ekonomi, menarik lebih banyak peserta lelang, dan mendorong persaingan yang lebih kompetitif.
“Pesertanya makin banyak, makin kompetitif. Semakin besar skalanya, akan mendapatkan hasil yang lebih kompetitif,” ucap dia.
PLN menilai skema tersebut menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pembangunan pembangkit hidro yang selama ini membutuhkan waktu panjang, mulai dari penyusunan studi kelayakan, proses perizinan, pengadaan, penyusunan perjanjian jual beli listrik, penyelesaian pembiayaan, hingga tahap konstruksi.
Dalam RUPTL 2025–2034, PLN menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga minihidro dengan total kapasitas 11.689,99 MW yang tersebar pada 315 proyek. Untuk mendukung percepatan tersebut, perusahaan menekankan pentingnya kesiapan jaringan transmisi, kepastian regulasi, kontrak yang stabil, serta pembagian risiko yang seimbang antara PLN dan pengembang agar proyek dapat berjalan sesuai target. []
Redaksi01
