Pengembang Kalsel Tertekan, Harga BBM Bikin Biaya Bangun Rumah Melonjak

BANJARMASIN – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai menekan sektor properti di Kalimantan Selatan (Kalsel). Pengembang perumahan mengeluhkan lonjakan harga material bangunan dan biaya angkutan yang dinilai membebani keberlangsungan pembangunan rumah bersubsidi maupun komersial.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Kalsel, Ahyat Sarbini, mengatakan dampak kenaikan BBM mulai dirasakan signifikan setelah Idulfitri 2026. Menurutnya, pengembang sebelumnya masih mampu menahan kenaikan harga material, namun kondisi berubah setelah tarif BBM non subsidi meningkat.

“Kenaikan BBM ini sangat memberatkan dunia usaha, termasuk sektor properti. Ada 185 industri ikutan yang terdampak multiplier efect, seperti industri material, semen, besi , batu gunung, pasir semuanya naik tajam,” jelasnya sebagaimana dilansir Radar Banjarmasin, Kamis (07/05/2026).

Ia menuturkan, tekanan biaya pembangunan semakin berat karena harga rumah skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tidak mengalami penyesuaian selama dua tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat pengembang kesulitan menutup biaya bahan baku pembangunan rumah yang terus meningkat.

“Yang makin membuat pengembang makin berat adalah harga rumah FLPP yang sudah dua tahun terakhir ini tidak ada kenaikan. Sehingga, harga yang sekarang ini sudah tidak bisa menutupi harga bahan baku untuk pembangunan rumah,” ujarnya.

Menurut Ahyat, sektor properti memiliki keterkaitan dengan ratusan industri pendukung sehingga kenaikan harga BBM berdampak luas terhadap rantai pasok bahan bangunan hingga jasa distribusi.

“Kami sangat berharap Pemerintah mengambil kebijakan yang bisa menolong dunia usaha, termasuk untuk kebijakan kenaikan BBM non subsidi agar bisa dipertimbangkan kembali, karena sekarang kenaikannya terlalu tinggi dan memberatkan dunia usaha,” imbuhnya.

DPD REI Kalsel berharap pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan harga BBM non subsidi agar iklim usaha sektor properti tetap stabil dan pembangunan rumah bagi masyarakat dapat terus berjalan di tengah kenaikan biaya konstruksi. []

Penulis: Raudah Anisya | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *