Penyaluran KUR di Kalsel Tembus Rp2,69 Triliun, Sektor Pertanian Mendominasi
BANJARMASIN – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai Rp2,69 triliun hingga 30 Juni 2026 atau setara 43,04 persen dari target Rp5,15 triliun. Dana tersebut telah disalurkan kepada 37.385 debitur, sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) terealisasi sebesar Rp30,95 miliar untuk 5.547 debitur sebagai upaya memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Capaian tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, usai kegiatan Publikasi Asset Liability Committee (ALCo) di Aula Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng), Kamis (30/07/2026). Sebagaimana diberitakan Kalimantan Post, Kamis (30/07/2026), realisasi penyaluran mengacu pada data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Catur menjelaskan, penyaluran KUR secara konvensional mencapai Rp2.584,57 miliar atau 95,98 persen dari total realisasi. Sementara itu, pembiayaan berbasis syariah mencapai Rp108,37 miliar atau 4,02 persen.
“Sektor pertanian menjadi sektor penerima KUR terbanyak sebesar Rp948,52 miliar atau 35,22 persen kepada 16.383 debitur dan skema mikro menjadi skema terbesar dengan penyaluran sebesar Rp1.736,33 miliar atau 64,48 persen kepada 33.676 debitur,” kata Catur.
Secara nasional, Kalsel menempati peringkat ke-17 dalam realisasi penyaluran KUR dan berada di posisi kedua di regional Kalimantan.
Berdasarkan wilayah, Kota Banjarmasin mencatat penyaluran KUR terbesar dengan nilai Rp480,86 miliar kepada 5.275 debitur. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Tanah Bumbu sebesar Rp348,33 miliar kepada 3.497 debitur, disusul Kabupaten Banjar senilai Rp278,85 miliar kepada 4.416 debitur.
Dari sisi lembaga penyalur, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi penyalur terbesar dengan realisasi Rp1.800,40 miliar kepada 32.308 debitur. Selanjutnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyalurkan Rp278,01 miliar kepada 2.232 debitur, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI merealisasikan Rp237,62 miliar kepada 778 debitur.
Selain KUR, pembiayaan UMi di Kalsel hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp30,95 miliar kepada 5.547 debitur. Dari jumlah tersebut, pembiayaan konvensional sebesar Rp5,38 miliar dan pembiayaan syariah Rp25,57 miliar.
Kalsel berada di peringkat ke-28 secara nasional dalam realisasi penyaluran UMi, namun menempati posisi ketiga di regional Kalimantan. Penyaluran terbesar kembali berada di Kota Banjarmasin sebesar Rp6,21 miliar kepada 1.027 debitur, diikuti Kabupaten Banjar Rp3,86 miliar kepada 703 debitur, serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar Rp3,10 miliar kepada 561 debitur.
Menurut Catur, sektor perdagangan menjadi penerima pembiayaan UMi terbesar dengan porsi 97,56 persen. Berdasarkan skema penyaluran, pembiayaan didominasi melalui skema kelompok senilai Rp29,46 miliar.
“PNM mencatat penyaluran UMi tertinggi dengan membukukan capaian sebesar Rp26,28 miliar kepada 4.651 debitur,” ungkapnya.
Untuk memastikan pembiayaan tepat sasaran, Kanwil DJPb Kalsel terus memperkuat fungsi pengawasan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi bersama seluruh mitra penyalur.
“Kolaborasi strategis ini akan terus ditingkatkan demi memastikan keberhasilan pola penyaluran di titik-titik pertumbuhan seperti di Kota Banjarmasin dapat teramplifikasi secara merata ke seluruh kabupaten/kota,” kata Catur.
Upaya tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses permodalan bagi pelaku UMKM, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di seluruh wilayah Kalsel. []
Redaksi01
