Pertamina Naikkan Dexlite dan Pertamina Dex, Konsumen Mulai Hitung Ulang Pengeluaran
JAKARTA – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dilakukan PT Pertamina (Persero) pada Kamis (21/05/2026) memicu perhatian publik setelah sejumlah produk mengalami kenaikan signifikan, terutama pada jenis high-performance fuel dan solar nonsubsidi, sementara BBM subsidi serta beberapa produk lain masih bertahan di harga sebelumnya.
Kenaikan paling menonjol terjadi pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya yang menerapkan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen. Pertamax Turbo naik dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter, Dexlite melonjak dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex meningkat dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.
Di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi tersebut, Pertamina tetap mempertahankan harga Pertamax di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 sebesar Rp12.900 per liter. Sementara BBM subsidi, yakni Pertalite dan Bio Solar, juga belum mengalami perubahan dengan harga masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Kebijakan ini menunjukkan adanya diferensiasi penyesuaian harga antara produk nonsubsidi dan subsidi, terutama pada bahan bakar dengan spesifikasi lebih tinggi yang banyak digunakan kendaraan tertentu. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pengeluaran konsumen di sektor transportasi dan distribusi barang.
Untuk wilayah DKI Jakarta (DKI), Banten, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur (Jatim), struktur harga BBM masih menempatkan Pertamax sebagai produk nonsubsidi yang stabil, sementara jenis lain mengalami penyesuaian. Perubahan harga tersebut juga tercatat di sejumlah wilayah lain dengan nominal berbeda, sebagaimana diberitakan Mi, Kamis (21/05/2026).
Penyesuaian harga ini menjadi indikator dinamika pasar energi domestik yang terus bergerak mengikuti kebijakan perusahaan dan kondisi distribusi di berbagai daerah. Masyarakat diperkirakan tetap mencermati dampaknya terhadap biaya mobilitas maupun aktivitas logistik nasional. []
Penulis: Rolia Pakpahan | Penyunting: Redaksi01
