Proyek ELEGTEC Dorong Industri Kulit Indonesia Naik Kelas

0
1792994356_7ff517bb36b48f8cf78a

YOGYAKARTA – Stabilitas pasokan bahan baku, peningkatan mutu produk, dan teknologi pengolahan ramah lingkungan menjadi tantangan utama industri kulit Indonesia di tengah persaingan pasar global. Untuk menjawab persoalan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan kapasitas tenaga ahli dan fasilitas pengujian melalui proyek Enhancing Sustainability and Green Leather Technology in Indonesia (ELEGTEC) yang didukung pendanaan Erasmus+ Uni Eropa.

Kebutuhan memperkuat industri ini sejalan dengan nilai ekspor industri kulit dan alas kaki Indonesia yang mencapai 4,85 miliar dolar Amerika Serikat pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat 5,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu menunjukkan peluang pasar yang perlu didukung oleh peningkatan kualitas, efisiensi produksi, dan keberlanjutan proses pengolahan.

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM Bambang Suwignyo mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung industri kulit nasional. Menurutnya, kulit sebagai hasil ikutan peternakan memiliki potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri dan menyumbang devisa negara.

“Fakultas Peternakan UGM telah lama mengembangkan Laboratorium Teknologi Kulit, Hasil Ikutan dan Limbah Peternakan untuk mendukung ekosistem industri kulit nasional. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kami berharap industri kulit Indonesia semakin kuat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global,” tutur Bambang dalam ELEGTEC Final Conference di Fapet UGM, Senin (26/10/2026), sebagaimana dilansir Republika, Senin, (26/10/2026).

Proyek ELEGTEC dikoordinasikan oleh Yuny Erwanto dari Fapet UGM. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan akademisi, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan pelaku industri dalam mengembangkan teknologi pengolahan kulit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

UGM membangun konsorsium internasional bersama Ege University di Turki, National Technical University of Athens di Yunani, serta University of Pisa di Italia. Di dalam negeri, kerja sama melibatkan Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia, Balai Pengujian dan Standardisasi Kulit, Karet dan Plastik, Universitas Hasanuddin, serta Universitas Mataram.

Proposal proyek tersebut memperoleh pendanaan sekitar Rp3 miliar dari Erasmus+ Uni Eropa setelah melalui proses pengajuan dan perbaikan berulang. Dana itu digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dan pengembangan laboratorium pengujian produk kulit berstandar internasional.

“Proposal ini sempat gagal dua kali. Alhamdulillah, setelah terus melakukan perbaikan dan mengajukannya kembali pada seleksi ketiga, akhirnya proposal ini berhasil memperoleh pendanaan,” ungkap Yuny yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet UGM.

Selama tiga tahun pelaksanaan, proyek ini memberikan kesempatan kepada dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan pelaku industri kulit nasional untuk mengikuti pelatihan di Turki, Yunani, dan Italia. Kegiatan tersebut membuka akses terhadap pengetahuan dan praktik pengolahan kulit yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri di Indonesia.

Selain peningkatan keterampilan tenaga kerja, fasilitas pengujian produk diharapkan mendukung pengendalian mutu, penerapan standar, dan inovasi teknologi. Penguatan fasilitas ini menjadi bagian penting agar pengembangan ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata pelaku usaha.

Yuny menjelaskan bahwa proyek Erasmus+ menerapkan mekanisme pengelolaan yang kompetitif dan evaluasi berkelanjutan. Oleh sebab itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari perolehan pendanaan, tetapi juga dari pencapaian target, mutu pelaksanaan, dan manfaat yang dihasilkan bagi para mitra serta masyarakat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia Arifin Kusniawan menyoroti tantangan industri penyamakan kulit selama sekitar satu dekade terakhir. Salah satu persoalannya ialah penyerapan produk yang belum optimal di tengah perubahan permintaan pasar dan persaingan dengan produk berbahan nonkulit.

Industri juga menghadapi persoalan stabilitas pasokan bahan baku. Kulit sebagai hasil ikutan peternakan perlu dimanfaatkan secara optimal agar memiliki nilai tambah. Di saat yang sama, perusahaan harus menyesuaikan proses produksi dengan perkembangan teknologi serta tuntutan regulasi yang semakin menekankan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan.

Arifin menyebutkan, terdapat sekitar 140 unit usaha penyamakan kulit di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya dukungan yang berkelanjutan agar pelaku usaha mampu mempertahankan kegiatan produksi, meningkatkan efisiensi, dan memenuhi kebutuhan pasar.

“Dukungan teknologi dan stabilitas bahan baku menjadi kebutuhan penting bagi industri penyamakan kulit. Kami berharap konsorsium ELEGTEC dapat semakin melibatkan industri dalam berbagai kegiatan sehingga hasil pengembangan teknologi benar-benar menjawab kebutuhan pelaku usaha,” kata Arifin.

Ia juga menekankan pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan kulit sapi dalam negeri serta mengembangkan potensi kulit domba dan kambing. Penguatan pasokan bahan baku perlu berjalan seiring dengan peningkatan teknologi pengolahan, mutu produk, dan akses pasar, termasuk pasar ekspor.

Dengan menghubungkan perguruan tinggi, laboratorium, dan pelaku usaha, proyek ELEGTEC diharapkan mampu mempersempit kesenjangan antara hasil pengembangan teknologi dan kebutuhan industri. Keberlanjutan kolaborasi serta keterlibatan langsung perusahaan akan menjadi faktor penting agar peningkatan kapasitas tersebut berkontribusi terhadap daya saing industri kulit Indonesia. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *