Kolaborasi UMY dan BPRS BDW Fokus Benahi UMKM Kuliner Lokal

BANTUL – Pendampingan berbasis syariah yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama BPR Syariah Bangun Drajat Warga (BPRS BDW) mulai diarahkan untuk memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner melalui pembenahan manajemen, efisiensi biaya produksi, hingga transformasi digital di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang menitikberatkan pada penguatan ekonomi kerakyatan. Fokus utamanya menyasar pelaku UMKM kuliner lokal yang dinilai memiliki potensi pasar besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam tata kelola usaha, persaingan pasar, dan pengembangan sistem bisnis modern.

Kerja sama UMY dan BPRS BDW diawali melalui pertemuan strategis di kantor BPRS BDW pada 3 April 2026. Dalam agenda itu, kedua pihak menyusun langkah penguatan permodalan serta operasional usaha bagi pelaku UMKM.

Pendampingan kemudian diberikan kepada sejumlah pelaku usaha, termasuk usaha katering dan jajanan pasar milik Santika Wati atau Murtini. Usaha keluarga tersebut dinilai memiliki peluang berkembang, namun masih memerlukan pembenahan manajemen agar lebih adaptif terhadap perubahan pasar.

Tim pengabdian UMY melakukan observasi lapangan pada 7 Mei 2026 dengan memetakan kesiapan operasional usaha, mulai dari dapur produksi, higienitas bahan baku, hingga tata kelola keuangan. Pendekatan itu digunakan untuk menyusun strategi pengembangan usaha yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Dosen pengabdi UMY Syarif As’ad menjelaskan pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga menyasar penguatan pemasaran digital dan efisiensi operasional usaha. “Pendampingan yang kami lakukan hingga akhir Mei ini kami fokuskan pada pengembangan usaha kuliner secara menyeluruh. Kami melakukan efisiensi pada penataan skema biaya produksi katering agar lebih kompetitif, melakukan transformasi digital melalui penguatan pemasaran daring, serta membenahi manajemen pelayanan operasionalnya,” ujarnya, sebagaimana diwartakan Viva, Senin, (25/05/2026).

Selain penguatan bisnis, kolaborasi ini juga menekankan literasi keuangan syariah dan pembentukan etika usaha berkelanjutan. Pendampingan diarahkan agar pelaku UMKM tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memiliki tata kelola usaha yang lebih mandiri dan terukur.

Model kolaborasi antara kampus, lembaga keuangan syariah, dan pelaku usaha tersebut dinilai dapat menjadi penguatan baru bagi UMKM kuliner di DIY. Dengan dukungan manajemen modern, literasi keuangan, serta penguatan pemasaran digital, UMKM lokal diharapkan mampu naik kelas, lebih kompetitif, dan bertahan menghadapi dinamika pasar. []

Penulis: Fuska Sani Evani | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *