Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.960 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan BI
JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan di zona merah setelah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang domestik terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman akibat memanasnya tensi geopolitik global, sementara pelaku pasar juga menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada pekan ini.
Pada pembukaan perdagangan Senin (20/07/2026), rupiah berada di level Rp17.960 per dolar AS atau melemah 0,42 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (17/07/2026) yang berada di posisi Rp17.885 per dolar AS.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY) bergerak relatif stabil di level 100,765 setelah menguat 0,28 persen pada akhir perdagangan pekan sebelumnya. Penguatan dolar terhadap mayoritas mata uang dunia terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian investor akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak.
Kondisi tersebut memperkuat minat investor terhadap dolar AS sebagai aset aman sehingga membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain dipengaruhi sentimen eksternal, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli 2026 mencapai 85,6 persen, meningkat dibandingkan proyeksi sebulan sebelumnya yang berada di angka 61,5 persen.
Meski demikian, arah kebijakan The Fed masih dibayangi perbedaan pandangan di kalangan pejabatnya. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menilai suku bunga masih berpotensi dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi yang dinilai tetap tinggi. Pandangan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu pembahasan penting dalam rapat kebijakan moneter mendatang.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (22/07/2026). Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, termasuk kenaikan 25 basis poin pada 18 Juni 2026 sebagai respons terhadap tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan tersebut sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Senin (20/07/2026), mencerminkan masih kuatnya pengaruh sentimen global terhadap pasar keuangan domestik di tengah penantian keputusan kebijakan moneter dari BI maupun The Fed. []
Redaksi01
