Rupiah Ditutup Melemah, Tembus Rp17.721 per Dolar AS
JAKARTA – Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami tekanan pada perdagangan Senin (24/08/2026), dengan pelemahan 0,15 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah spot ditutup di level Rp17.721 per dolar AS, turun dari posisi penutupan akhir pekan sebelumnya sebesar Rp17.694 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada akhir perdagangan hari itu. Berdasarkan data pasar, tekanan terhadap rupiah hanya sedikit lebih rendah dibandingkan yen Jepang yang melemah 0,16 persen terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS masih memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang regional. Selain rupiah dan yen, ringgit Malaysia juga melemah 0,11 persen, dolar Singapura turun 0,08 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,04 persen, yuan China melemah 0,04 persen, sedangkan rupee India turun 0,02 persen.
Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia bergerak negatif. Won Korea menguat 0,10 persen terhadap dolar AS, sedangkan dolar Hong Kong naik 0,04 persen. Baht Thailand juga menguat 0,01 persen dan peso Filipina bertambah 0,005 persen.
Pergerakan mata uang regional tersebut berlangsung ketika indeks dolar yang mencerminkan kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 98,95 pada akhir perdagangan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang berada di 98,80.
Kenaikan indeks dolar menjadi salah satu gambaran bahwa mata uang AS masih berada dalam posisi relatif kuat di pasar valuta asing. Kondisi tersebut dapat menjadi faktor yang turut memengaruhi pergerakan mata uang negara-negara Asia, termasuk rupiah.
Pelemahan rupiah pada awal pekan juga melanjutkan tekanan yang sebelumnya terjadi pada perdagangan intraday. Pada perdagangan Senin siang, rupiah sempat berada di sekitar level Rp17.699 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup lebih rendah pada Rp17.721 per dolar AS.
Dengan penutupan tersebut, pelaku pasar kembali mencermati arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya, terutama di tengah dinamika mata uang regional dan perubahan posisi dolar AS di pasar global.
Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu indikator penting bagi perekonomian karena perubahan kurs dapat memengaruhi biaya barang impor, pembayaran kewajiban dalam valuta asing, hingga aktivitas perdagangan dan investasi. Karena itu, perkembangan rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi perhatian pasar, khususnya ketika tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia masih berlangsung sebagaimana diberitakan Kontan, Senin, (24/08/2026).
Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global serta respons mata uang Asia terhadap perubahan kekuatan dolar AS. Pergerakan indeks dolar dan sentimen investor akan menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan posisi rupiah pada perdagangan selanjutnya. []
Redaksi01
