Tahu dan Tempe Berpotensi Mahal, Rupiah Jadi Pemicu

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu tekanan terhadap harga pangan berbahan baku impor, terutama tahu dan tempe. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada daya beli masyarakat serta keberlangsungan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan apabila kurs rupiah terus mengalami penurunan.

Kurs rupiah yang sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS membuat biaya impor kedelai meningkat. Padahal, sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada pasokan dari AS. Kenaikan biaya impor itu kemudian berimbas pada naiknya ongkos produksi tahu dan tempe di berbagai daerah.

Pelaku usaha tahu dan tempe kini menghadapi tekanan berlapis. Selain harga kedelai impor yang melonjak, biaya distribusi, listrik, hingga kemasan juga mengalami kenaikan. Akibatnya, sebagian produsen mulai mempertimbangkan penyesuaian harga jual maupun pengurangan ukuran produk agar usaha tetap bertahan.

Fenomena penyusutan ukuran tempe diperkirakan kembali terjadi di sejumlah pasar tradisional. Langkah tersebut dinilai menjadi strategi pedagang untuk menjaga harga tetap terjangkau di tengah kenaikan biaya produksi.

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai kembali menjadi sorotan. Produksi kedelai dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan nasional karena banyak petani lebih memilih komoditas lain seperti jagung dan padi yang dianggap lebih menguntungkan.

Tekanan akibat pelemahan rupiah juga diprediksi merembet ke sektor UMKM lain yang menggunakan bahan baku impor. Produk makanan kemasan, mi instan, hingga susu berpotensi mengalami kenaikan harga apabila nilai tukar rupiah terus melemah.

Ekonom menilai pemerintah perlu memperkuat produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Upaya menjaga stabilitas rupiah, memperluas lahan tanam kedelai, serta pemberian insentif kepada petani dianggap penting demi menjaga ketahanan pangan nasional.

Masyarakat juga diimbau lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kenaikan harga tahu dan tempe dinilai menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan biaya hidup yang dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi, sebagaimana diberitakan Ketik, Senin (19/05/2026). []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *