UMKM Indonesia Tembus Eropa dengan Teknologi RFID Blockchain
JAKARTA – Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia yang akan menembus pasar Eropa kini diperkuat teknologi Radio Frequency Identification (RFID) berbasis blockchain guna memenuhi standar transparansi dan keterlacakan produk yang diterapkan Uni Eropa. Sistem tersebut diterapkan melalui kolaborasi SMESCO dan INA Trading untuk mendukung ekspor produk lokal ke Portugal dan Belanda.
Penerapan teknologi Peruri Smart Card berbasis RFID blockchain itu ditujukan untuk melindungi produk UMKM dari pemalsuan sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Setiap produk yang lolos kurasi akan dipasangi chip RFID yang terhubung langsung dengan jaringan blockchain.
Melalui sistem tersebut, produk UMKM akan memiliki Data Digital Passport yang memuat informasi lengkap mulai dari asal bahan baku, sertifikat, jejak karbon, data deforestasi, hingga identitas digital produk. Konsumen dapat memverifikasi seluruh informasi itu melalui aplikasi INA Trading.
Direktur Peruri Smart Card, Muchrizal, mengatakan integrasi RFID dan blockchain memungkinkan setiap produk memiliki identitas digital unik yang dapat dilacak secara global.
“Teknologi RFID yang dikembangkan oleh Peruri Smart Card dapat memuat berbagai macam data yang dibutuhkan eksportir dan importir. Selain itu, teknologi ini terintegrasi dengan blockchain sehingga setiap produk yang menggunakan RFID mempunyai Token ID dan TX Hash menjadi Data Product Passport yang dibutuhkan regulator European Blockchain Services Infrastructure di Eropa,” ujar Muchrizal dalam keterangan di Jakarta, sebagaimana dilansir Viva, Selasa (10/05/2026).
Sebelum implementasi sistem dilakukan, INA Trading bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta SMESCO telah mengkurasi sejumlah produk unggulan yang diminati pasar Eropa, seperti dompet, tas, sepatu, dan scarf dari merek Miumosa dan Mamnich.
Direktur PUNDI dan INA Trading, Amiranto Adi Wibowo, menyebut keberadaan Digital Product Passport menjadi syarat penting agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar Uni Eropa yang kini menerapkan regulasi ketat terkait keberlanjutan dan keterlacakan produk.
“Agar dapat memasuki pasar Uni Eropa secara kompetitif, produk Indonesia wajib memenuhi berbagai regulasi utama seperti Digital Product Passport di bawah regulasi Ecodesign for Sustainable Products Regulation (ESPR) yang berlaku sejak 18 Juli 2024 dan diimplementasikan bertahap hingga 2030,” kata Amiranto.
Ia menambahkan regulasi Uni Eropa menuntut sistem identitas digital dan keterlacakan produk secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Seluruh regulasi ini mensyaratkan identitas produk digital, keterlacakan end-to-end, serta standar identifikasi produk global agar produk dapat diterima dan beredar di pasar Eropa,” lanjutnya.
Selain memperkuat keamanan produk, sistem tersebut juga membuka peluang transaksi digital. Produk Indonesia yang dipasarkan di Casa Da Indonesia di Porto, Portugal, nantinya dapat dibeli menggunakan cryptocurrency melalui mesin Electronic Data Capture (EDC) VISA yang telah terhubung dengan ekosistem European Blockchain Services Infrastructure.
Pengembangan teknologi ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak, antara lain Peruri Smart Card, Peruri Digital Security, PUNDI Group, EQBR Korea, Kementerian UMKM, SMESCO, BLOCKTOGO, Indonesia In Your Hand Eropa, dan Mindsground.
SMESCO dan INA Trading optimistis implementasi RFID blockchain mampu mendorong nilai ekspor produk UMKM hingga Rp1,5 miliar sepanjang 2026. Sistem tersebut pertama kali diperkenalkan pada ajang INABUYER B2B2G Expo 2026 di Gedung SMESCO Jakarta pada 5-7 Mei 2026. Pada momentum itu, Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting, menyerahkan secara simbolis produk SMESCO berteknologi RFID blockchain untuk dikirim ke Casa Da Indonesia di Porto, Portugal. []
Penulis: Reni Erina | Penyunting: Redaksi01
