Wall Street Anjlok, Lonjakan Harga Minyak dan AI Guncang Pasar

NEW YORK – Kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dunia dan membengkaknya belanja modal perusahaan teknologi untuk pengembangan artificial intelligence (AI) memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut menyeret tiga indeks utama Wall Street ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (23/07/2026), dengan indeks Nasdaq Composite mencatat pelemahan terdalam lebih dari 2 persen.

Sentimen negatif muncul setelah harga minyak mentah dunia kembali melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di saat bersamaan, pelaku pasar juga mencermati laporan keuangan kuartal II dari Alphabet dan Tesla yang memunculkan kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal (capital expenditure) untuk pengembangan AI serta tekanan terhadap arus kas perusahaan.

Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup menembus 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sedangkan minyak mentah berjangka AS berakhir di atas 92 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi menjelang rapat kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).

Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak. Militer AS melancarkan serangan udara lanjutan terhadap Iran yang kemudian dibalas dengan serangan rudal Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara tetangga. Presiden AS Donald Trump juga menjanjikan “hukuman militer berat” bagi Iran dan kelompok Houthi setelah dua kapal tanker minyak Arab Saudi diserang di Laut Merah.

“Kenaikan cepat harga minyak menimbulkan risiko makro dan pasar yang signifikan,” kata Matt Miskin, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments, sebagaimana dilansir Reuters.

Ia menambahkan bahwa data pengangguran yang tetap rendah akan menekan The Fed untuk berfokus menekan inflasi.

Ia juga menyoroti minimnya antusiasme pasar, bahkan terhadap laporan keuangan yang solid, seiring kesulitan investor dalam membenarkan tingkat valusi saham yang sudah sangat tinggi.

“Secara keseluruhan angkanya bagus, tetapi banyak perusahaan memiliki catatan tertentu yang memicu penurunan harga sahamnya,” ujar Miskin, merujuk pada kekhawatiran belanja modal (capital expenditure) sebagai salah satu alasannya.

“Celah sekecil apa pun langsung direspons pasar dengan aksi jual,” imbuh dia.

Pada akhir perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97 persen menjadi 51.711,65. Sementara itu, indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) melemah 90,66 poin atau 1,21 persen ke level 7.408,30 dan Nasdaq Composite terkoreksi 553,21 poin atau 2,15 persen menjadi 25.137,69.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, hanya empat sektor yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor industri menjadi yang terbaik dengan kenaikan 1,77 persen berkat menguatnya saham perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin dan RTX. Saham Lockheed Martin melonjak 10,5 persen setelah meningkatkan proyeksi penjualan dan laba sepanjang 2026, sedangkan RTX naik 7,3 persen usai merevisi target penjualan dan laba tahun depan.

Sebaliknya, saham Alphabet merosot 7 persen setelah mengumumkan peningkatan belanja modal dan tingginya pengeluaran arus kas (cash burn). Pelemahan tersebut menyeret sektor jasa komunikasi turun 5,20 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari itu.

Tekanan juga terjadi pada sektor barang konsumen sekunder (consumer discretionary) yang melemah 5,12 persen. Saham Tesla anjlok 14,5 persen setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal II untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Sementara itu, Indeks Volatilitas CBOE (Chicago Board Options Exchange Volatility Index/VIX), yang kerap dijadikan indikator tingkat kecemasan investor, naik 2,06 poin ke level 18,7 setelah sempat menyentuh 20,3 atau posisi tertinggi dalam hampir satu bulan.

Di pasar obligasi, kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (United States Treasury/US Treasury) tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak awal 2025. Meski demikian, berdasarkan instrumen CME Group FedWatch, pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 64 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan.

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan dominasi tekanan jual. Di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange/NYSE), jumlah saham yang melemah hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Volume transaksi di seluruh bursa AS tercatat 16,21 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 18,51 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *