Wall Street Bergejolak, Nasdaq Menguat tetapi Tren Penurunan Belum Berakhir

0
full_1782770619560912_20e28a8176_berita_jember

NEW YORK – Pemulihan saham-saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga. Meskipun Nasdaq dan S&P 500 kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat (06/11/2026), tekanan sepanjang pekan masih membayangi pasar, terutama setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember meningkat.

Indeks Nasdaq Composite ditutup menguat 1,1 persen atau bertambah 264 poin ke posisi 24.579,43. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,32 persen atau 23 poin menjadi 7.376,8. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,46 persen atau 237 poin ke level 51.285,73.

Kebangkitan saham teknologi menjadi penopang utama perdagangan setelah sektor tersebut mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Indeks semikonduktor bahkan melonjak 4,2 persen, dengan saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 11 persen, Nvidia naik 2,8 persen, dan Sandisk bertambah hampir 4 persen.

Penguatan juga terjadi pada sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Saham Tesla meningkat 4,2 persen, sedangkan SpaceX melonjak 8,6 persen setelah sebelumnya mengalami penurunan pada Kamis.

Namun, pemulihan harian tersebut belum cukup membalikkan kinerja mingguan Nasdaq yang mencatatkan penurunan selama empat pekan berturut-turut. Indeks S&P 500 juga mengalami kinerja mingguan terburuk dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) masih berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter AS.

Kepala Investasi Truist Advisory Services, Keith Lerner, menilai teknologi tetap menjadi sektor dominan yang menopang tren kenaikan pasar saham. “Kami tetap berpandangan bahwa AI merupakan tema dominan dalam pasar yang sedang dalam tren naik (bull market) ini,” ujar Lerner.

Ia menambahkan, “Kami masih menaruh kepercayaan pada sektor teknologi.”

Pandangan serupa disampaikan Kepala Strategi Lintas Aset LPL Financial, Adam Turnquist. Menurutnya, tekanan terhadap saham-saham AI dalam beberapa waktu terakhir belum cukup membuktikan bahwa prospek sektor tersebut mengalami perubahan fundamental.

“Sektor AI telah beberapa kali ‘diadili’ dalam siklus ini dan selalu dinyatakan tidak bersalah,” ujar Turnquist.

Menanggapi aksi jual saham AI yang dipicu reaksi pasar terhadap hasil pemilihan paruh waktu (midterm election) di AS, ia menambahkan, “Minggu ini kita melihat semacam reaksi spontan yang berlebihan.”

Di luar sentimen teknologi, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan pasar tenaga kerja AS. Data ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) Oktober menunjukkan penambahan lapangan kerja yang melampaui perkiraan, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat. Namun, ketahanan ekonomi justru meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga.

Berdasarkan data LSEG, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember diperkirakan mencapai 78 persen, meningkat dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 70 persen.

Kepala Perdagangan Ekuitas Themis Trading, Joe Saluzzi, mengakui kuatnya data ketenagakerjaan tersebut, tetapi mempertanyakan konsekuensinya terhadap kebijakan bank sentral.

“Angka-angka tersebut sangat kuat,” kata Saluzzi.

Namun, ia mempertanyakan, “Apakah The Fed akan tetap menaikkan suku bunga di tengah kondisi pasar yang sedang goyah?”

Ketidakpastian pasar juga tercermin dari pergerakan saham di luar sektor teknologi. Saham perusahaan perangkat lunak Atlassian anjlok 16 persen setelah mengumumkan laporan kinerja kuartal pertama. Sebaliknya, saham Airbnb melonjak 12 persen setelah perusahaan penyewaan akomodasi tersebut meningkatkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026.

Sektor kebutuhan pokok dan kesehatan turut mengalami tekanan, sedangkan teknologi informasi menjadi sektor dengan kenaikan terbesar dalam indeks S&P 500.

Di pasar komoditas, harga minyak bergerak sedikit melemah dan berada dalam jalur penurunan mingguan yang tajam. Indeks energi S&P 500 tercatat merosot 12 persen sepanjang pekan, menjadi kinerja terburuk sektor tersebut sejak April 2025.

Meski demikian, perkembangan harga tembaga masih memberikan indikasi positif bagi prospek industri AI. Turnquist menjelaskan, tembaga merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan pusat data dan pengembangan berbagai teknologi.

Harga kontrak berjangka tembaga masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) serta melampaui titik terendah pada September. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan permintaan terhadap komoditas pendukung infrastruktur teknologi belum memperlihatkan pelemahan yang berarti.

“Jika memang terjadi penurunan permintaan yang nyata terkait AI, seharusnya harga tembaga sudah mulai melemah,” ujar Turnquist.

Ia melanjutkan, “Ini memang bukan tolok ukur yang sempurna, tetapi saya melihatnya sebagai cara untuk menguji realitas di lapangan.”

Pergerakan Wall Street pada pekan tersebut menunjukkan bahwa prospek AI masih menjadi salah satu penggerak utama pasar saham AS. Namun, investor juga harus memperhitungkan risiko perubahan kebijakan suku bunga, perkembangan tenaga kerja, dan volatilitas pasar sebelum menentukan arah investasi berikutnya.

Dinamika tersebut membuat pemulihan saham teknologi belum sepenuhnya menjadi sinyal berakhirnya tekanan pasar, terutama ketika ekspektasi kenaikan suku bunga masih meningkat. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *