273 Hotel dan 3.827 Restoran Jadi Kekuatan Ekonomi Pariwisata Batam

BATAM – Industri hotel dan restoran dinilai memiliki posisi penting dalam menopang perekonomian sekaligus pengembangan pariwisata Batam. Dengan ratusan hotel dan ribuan restoran yang beroperasi, sektor tersebut menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi daerah, termasuk melalui pengembangan wisata dan penyelenggaraan kegiatan berskala nasional hingga internasional.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan potensi tersebut perlu terus diperkuat melalui peningkatan infrastruktur, konektivitas, serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha. Ia menyampaikan hal itu saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dalam Musyawarah Daerah (Musda) IV Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Grand Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Rabu (02/09/2026).

Menurut Ardiwinata, geliat pembangunan infrastruktur di Batam turut membuka ruang lebih besar bagi pertumbuhan sektor pariwisata dan industri hospitality. Perbaikan akses jalan dan konektivitas dinilai dapat mempermudah mobilitas wisatawan sekaligus mendukung kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan hotel dan restoran.

“Kalau kita lihat sekarang, akses darat kita luar biasa. Jalan-jalan terus diperbaiki, dilebarkan, dimuluskan, dan ditambah jalurnya,” ujar Ardiwinata.

Data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan skala industri hotel dan restoran di Batam cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 273 hotel dan 3.827 restoran yang beroperasi. Sektor pariwisata juga disebut memberikan kontribusi sekitar 24 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Besarnya kontribusi itu membuat penguatan sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dengan kemampuan Batam menangkap peluang dari berbagai kegiatan bisnis dan pertemuan. Salah satu segmen yang dinilai memiliki prospek adalah Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).

Pengembangan MICE membutuhkan dukungan fasilitas pertemuan yang memadai, termasuk convention hall serta sarana penyelenggaraan kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan acara berskala nasional dan internasional. Batam dinilai memiliki peluang untuk mengambil ceruk pasar tersebut karena posisinya sebagai kota industri, perdagangan, jasa, investasi, sekaligus destinasi wisata.

“Batam memiliki peluang besar menjadi tujuan penyelenggaraan berbagai kegiatan nasional hingga internasional jika didukung fasilitas yang memadai,” katanya.

Potensi ekonomi tersebut juga menjadi alasan pentingnya penguatan organisasi yang mewadahi pelaku usaha hotel dan restoran. Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat (BPP) PHRI Hariyadi BS Sukamdani mengatakan semakin besar jumlah anggota, semakin kuat pula posisi organisasi dalam memperjuangkan kepentingan industri, terutama dalam menghadapi berbagai regulasi.

“Yang penting adalah advokasi kita. Kita memberikan informasi tentang apa yang terjadi dengan regulasi yang harus diketahui para pelaku usaha,” ujar Hariyadi, sebagaimana dilansir Batampos, Rabu, (02/09/2026).

Ia mendorong pelaku usaha hotel dan restoran yang belum menjadi anggota PHRI untuk bergabung. Menurutnya, organisasi tersebut dapat menjadi wadah advokasi dan pembinaan sekaligus memperkuat komunikasi antara dunia usaha dan pemerintah.

Penguatan sektor industri juga menjadi salah satu perhatian dalam Musda IV BPD PHRI Kepri. Ketua BPD PHRI Kepri periode 2021–2026 Jimmi Ho menyebut sejumlah tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha, mulai dari persaingan dengan destinasi wisata regional, kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten, penyederhanaan perizinan, hingga penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Musda IV BPD PHRI Kepri sekaligus menjadi forum evaluasi kepengurusan periode 2021–2026 dan penentuan arah organisasi untuk periode berikutnya. Pemilihan ketua baru diikuti dua kandidat, yakni Santi dan Rizal.

Ketua Panitia Musda IV PHRI Kepri Reni Novianti mengatakan seluruh persiapan forum telah dilakukan sejak Juli 2026. Tahapan tersebut mencakup persiapan teknis, tempat, akomodasi, hingga tata tertib dengan mengedepankan transparansi dan demokrasi organisasi.

“Seluruh persiapan teknis, tempat, akomodasi hingga tata tertib telah disiapkan,” katanya.

Melalui kepengurusan baru, PHRI Kepri diharapkan mampu memperkuat posisi pelaku usaha hotel dan restoran dalam menghadapi perubahan industri, sekaligus mendorong kolaborasi dengan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi Batam sebagai pusat bisnis dan destinasi wisata. Pengembangan MICE dan peningkatan daya saing industri hospitality diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi sektor pariwisata bagi daerah ke depan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *